KUMPULAN VIDEO LENTERA KEHIDUPAN





Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEBAKTIAN VIRTUAL MINGGU 02 AGUSTUS 2020

KEBAKTIAN 2 AGT 2020 COVER

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebaktian Online Gereja Cornerstone

KEBAKTIAN ONLINE @Gereja Cornerstone Indonesia San Francisco
Pdt. Saumiman Saud & Ev. Susan Cang, mengundang anda untuk ibadah bersama di Gereja Cornerstone Indonesia San Francisco dengan cara Virtual.
Klik di Channel Youtube ini :

Kebaktian Minggu Jam 11 pagi ( 28 Juni 2020)
Atau anda bisa ikuti via LIVE di Facebook Saumiman Cornerstone
Persembahan untuk mendukung Pelayanan ini dapat diberikan via Venmo qrs.ly/ojbk0vp atau Scan QR Barcode yang ada di flyr.
Atau via Check dengan menulis CEBC kirim ke Saumiman Saud, 154 Elmira St. San Francisco, CA 94124
Website Gereja Kami ; http://www.cebcindonesia.wordpress.com
Contact kami via WA ; +1 415 813 9772
Terima Kasih , Tuhan Memberkati Kita
San Francisco, CEBC Indonesia Service
Pdt. Saumiman Saud
Ev. Susan Cang
Kontak : +1-415-813-9772 atau
Atau Email : Saumiman.saud@cebc.net
persembahan..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TIDAK ADA AYAH YANG SEMPURNA

FATHERS DAY 1

TIDAK ADA AYAH YANG SEMPURNA
Lukas 11;1 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?
Tidak ada Ayah yang sempurna, semua Ayah ada kekurangannya. Namun saya yakin setiap ayah tentu memiliki cita-cita menjadi ayah yang sempurna, tidak ada satupun ayah yang ingin menjadi ayah yang jahat. Ia ingin membahagiakan keluarganya secara khusus untuk anak-anaknya. Ia bekerja keras dengan tujuan supaya memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun karena manusia tidak ada yang sempurna dan manusia terbatas dalam berbagai hal, kadang ada ayah yang merasa gagal memberikan yang terbaik buat anaknya, padahal mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik buat anak-anaknya.
Karena setiap ayah senantiasa ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, makanya kadang kita merasa heran bila kita melihat ada ayah yang masih sehat dan masih muda tetapi hidupnya tidak mau bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Bagaimana menjadi Ayah yang Sempurna itu?
Di dalam Alkitab memang tidak ada resep tertentu untuk menjadi seorang ayah yang sempurna, namun dari berbagai pengalaman para tokoh Alkitab kita dapat mengambil dan mempelajari beberapa proses yang terbaik untuk menjadi seorang ayah yang sempurna :
Ada 6 hal penting yang saya singkatkan dengan kata : F.A.T.H.E.R

I. Forgiving – Ayah yang Mengampuni

Tidak ada ayah yang membenci anaknya. Setiap ayah pasti sayang pada anaknya, sama halnya dengan seorang ibu. Lukas mencatat bahwa seorang Bapa tidak mungkin memberikan ular kepada anaknya, jika mereka meminta roti. Artinya sejahat apapun sang ayah, ia tetap mengasihi anak-anaknya. Apalagi seorang ayah yang baik, sudah pasti ia mengasihi anak-anaknya.

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus mengenai anak yang hilang, kita melihat di sini jelas-jelas bahwa anak yang bungsu itu kurang ajar sekali , ia meminta pembagian warisan pada orang tuanya, padahal orang tuanya masih hidup. Orang Asia tentu merasa pantang kalau terjadi kondisi demikian, itu artinya si anak mengharapkan agar orangtuanya cepat-cepat mati. Lukas 15 : 11-32 mencatat bahwa, ketika si anak bungsu mendapatkan uang tersebut, ia cepat-cepat pergi ke tempat yang jauh, dan memboroskannya hingga ia benar-benar menjadi bangkrut. Sesudah bangkrut maka ia baru sadar dan hendak pulang ke rumah Bapanya. Sang Bapa tidak membenci dia, sang Bapa tidak mengungkit-ngungkit kesalahannya, tetapi sang Bapa menerima dia kembali sang anak itu. Si Bapa mengampuni kesalahan anaknya, ia menerima anaknya kembali bukan sebagai budak tetapi tetap sebagai anak.

Mengampuni memang bukan merupakan keadilan, tetapi ini merupakan tindakan Kasih dan anugerah. Mengampuni bukan berartyi si ayah melupakan perbuatan sang bungsu, tetapi atas dasar kasih dan kemurahan , ia tidak mau ingat lagi apalagi mengungkit perbuatan jahat anaknya itu. Tindakan ayah yang demikianlah kita katakan ayah yang sempurna.

Ayah yang sempurna adalah ayah yang demikian. ia mengampuni anak-anak-anaknya. Permisi tanya, apakah anda mempunyai masalah dengan anak-anak anda?

II. Armor Of God – Ayah yang memperlengkapi diri dengan senjata Allah
Nasihat dan kebijakan seorang ayah tidak cukup jika ia hanya memiliki pengetahuan tinggi, tetapi ia harus memiliki kerohanian yang kuat. Kisah Ayub dalam hal mendidik anak-anaknya sangat kental terlihat di sini. Sebagai seorang ayah, ia setiap pagi bangun mendoakan anak-anaknya supaya Tuhan Allah mengampuni dosa-dosa mereka. Ayub memakai senjata Doa untuk menghadapi Tuhan, memohon belas kasihan untuk anak-anaknya.
Anak Ayub itu sepuluh orang, mereka setiap malam mengadakan pesta secara bergilir hingga malam hari. Setiap selesai acara pesta, Ayub memanggil anak-anaknya, dan besoknya pagi-pagi hari Ayub mempersembahkan korban bakaran, sebab pikirnya anak-anaknya sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah dalam hati. (lihat Ayub 1: 5 b) .
Ayub sebagai seorang Ayah yang senantiasa memberikan bimbingan melalui firman Tuhan kepadda anak-anakNya.
Bagaimana dengan Ayah masa kini? Apakah engkau tergolong Ayah yang memperlengkapi anak-anak dengan materi. Pikiran anda materi cukup untuk menjadikan anak anda yang baik.

III. Teacher – Ayah yang mendidik anak-anaknya

Ayah yang rohani belum tentu menularkan kerohaniannya kepada anak-anaknya. Hari ini kita melihat “Gap” atau jurang pemisah dalam generasi orang percaya, pihak ayah begitu mencintai Tuhan , tetapi pihak anak sama sekali tidak ke gereja. Mengapa hal ini bisa terjadi? Anak-anak tersebut bukan anak-anak yang broken home, mereka sangat diperhatikan segala kebutuhannya oleh orang tuanya, tetapi yang menjadi mesalah yang diperhatikan hanyalah hal-hal duniawi, misalnya keuangannya, kenderaannya, temat tinggalnya, liburannya. Ada banyak orang tua yang jarang bahkan tidak pernah memperhatikan kehidupan rohani anak-anaknya, merela lebih mengutamakan pendidikannya.

Nama Elkana dan Hana merupakan contoh sebuah keluarga yang sangat memperhatikan didikan rohani bagi anak-anaknya. Alkitab mencatat mereka adalah orang tua yang berhasil, mereka berhasil mendidik anaknya Samuel dipakai Tuhan dengan luar biasa. Samuel dipakai Tuhan sebagai salah seorang nabi yang kemudian mengurapi Saul dan Daud menjadi raja Israel. (lih 1 Samuel 1-2)

IV. Helper Ayah sebagai penolong.

Sebgai seorang Ayah yang bercita-cita ingin menjadi sempurna, membantu anak-anaknya tentu bukan hanya pada masa kecilnya saja. Kali ini ita mengambil contoh Daud . Di dalam keterbatasannya sebagai seorang raja yang bernama Daud, ia yang jatuh bangun di dalam perjalanan kehidupannya. Dalam Alkitab kita dapat menyaksikan bagaimana peranannya ia sebagai seorang Ayah yang membantu anak-anaknya untuk mewujudkan cita-cita. Ia memberikan dukungan yang paling baik kepada anaknya. Contoh konkritnya Ketika Salomo hendak mendirikan Bait Allah.
Sumbangan untuk pembangunan Bait Suci
29:1 Berkatalah raja Daud kepada segenap jemaah itu: “Salomo, anakku yang satu-satunya dipilih Allah adalah masih muda dan kurang berpengalaman, i sedang pekerjaan ini besar, sebab bukanlah untuk manusia bait itu, melainkan untuk TUHAN Allah. 29:2 Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas j untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam k dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak l pualam. 29:3 Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan m bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri 29:4 tiga ribu talenta emas dari emas Ofir n dan tujuh ribu talenta perak o murni untuk menyalut dinding ruangan, 29:5 yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN 8 ?” 29:6 Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin p pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya. q 29:7 Mereka r menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. 29:8 Siapa yang mempunyai batu permata s menyerahkannya kepada Yehiel, orang Gerson t itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN. 29:9 Bangsa itu bersukacita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati u mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita.

V. Everlasting – Ayah yang sempurna Ayah yang sepanjang masa
Ayah dan ibu kita memelihara kita sejak kecil, hingga remaja bahkan dewasa. Mereka tetap adalah orang tua kita dan kita tetap adalah anak-anak mereka. Kasih mereka tidak akan luntur. Orang tua yang baik dalam hal ini konteksnya Ayah, tentu senantiasa memperhatikan dan saying anak-anaknya hingga mereka dewasa.
Kira-kira 25 tahun silam ketika saya masih melayani di Surabaya, saat itu tidak pernah bermimpi bahwa kami sekeluarga bakal melayani di Amrika. Waktu itu ada anggota gerea suami-isteri yang selalu mengunjungi anaknya di Amerika. Mereka bercerita bahwa hampir setiap tahun paling sedikit sekali atau kadang dua kali kami dibeliin tiket untuk datang ke rumahnya. Baik sekali anak-anaknya.. Setelah saya tinggal di Amerika saya baru tahu rupanya Ayah dan ibu mereka dibeliin tiket, diminta ke Amerika beberapa bulan untuk menjaga anaknya. Jadi orang tua itu hingga kita dewasa samapi kita tua masih mengganggap kita adalah anak. Maka benar apa yang ditulis dalam kitab Yesaya : Yesaya 46 : 4 “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Akum mau memikul kamu dan menyelamtkan kamu.”
Walaupun sebabai Ayah tidak dapat sempurna sepenjang masa, namun paling sedikit selama kita masih hidup kita mesti menjadi teladan sepanjang masa.

VI. Respected – Ayah yang sempurna dihormati anak-anaknya

1 Timotius 3 : 2- 7 “ Saya ringkaskan sebagai berikut : “ Karena itu sebagai seorang penilik jemaat yang dituntut oleh Timotius ( ay 4) harus seorang kepala keluarga yang dihormati. Dari pengamatan saya terhadap para tokoh Alkitab saya tertarik share salah seorang tokoh yang bernama Samuel. Di jamannya umat Israel memberikan penghormatan yang tinggi kepadanya. Samuel adalah seorang nabi, imam, dan pemimpin legendaris pada masa itu. Saat pidato perpisahan yang diabadikan dalam 1 Samuel 12:1-25, setelah memimpin Israel selama puluhan tahun, Samuel berjanji akan membayar kembali apapun yang diambilnya secara tidak adil dari siapapun. Suatu janji yang luar biasa! Yang lebih mengesankan adalah tanggapan umat Israel: tidak ada seorangpun yang bangkit untuk menuntut sesuatu dari sang nabi yang berintegritas ini. Perhatikanlah pernyataan Alkitab ini, “Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: ‘Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu’. Jawab mereka: ‘Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun’. Lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku’. Jawab mereka: ‘Dia menjadi saksi.’ Lalu berkatalah Samuel kepada bangsa itu: ‘TUHANlah saksi, yang mengangkat Musa dan Harun dan yang menuntun nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir. Maka sebab itu, berdirilah supaya aku bersama-sama dengan kamu berhakim di hadapan TUHAN mengenai segala perbuatan keselamatan TUHAN yang telah dikerjakan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu” (1 Samuel 12:1-7).

Betapa bangganya anak-anak, jika memiliki Ayah yang dem

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Di Dalam Duka, masih bisa Bersuka

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dalam duka masih bisa bersuka

DALAM DUKA DI DALAM DUKA SENANTIASA BERSUKA?

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan : Bersukacitalah (Filipi 4:4)
Surat Filipi ditulis Rasul Paulus di dalam penjara, yang artinya ketika Paulus menulis ia sendiri berada di dalam kondisi yang sulit. Berada di dalam penjara tentu tidak ada suka-citanya, kecuali mereka yang dipenjara karena korupsi (#karena biasanya mereka yang korupsi, begitu dtangkap masih saja tertawa dan melambai-lambai tangannya). Jangankan di penjara, #stayathome dua bulan saja orang-orang Sudah merasa tidak betah, katanya serasa dipenjara.
Mengapa Paulus dapat menikmati suka-cita walaupun ia berada di dalam penjara? Apakah perasaannya sudah mati? Oh tidak juga. Paulus menikmati suka-cita di dalam kondisi yan sulit karena di dalam hidup-Nya ada Kristus Yesus. Yesus yang telah memberi-Nya pembaharuan diri supaya di dalam hidupnya boleh menjadi suka-cita bagi orang lain.
Apakah Paulus tidak pernah mengalami duka-cita? Dalam 2 Kor 6: 10 “ Sebagai orang yan berduka-cita, namun senantiasa bersukacita. Sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang, sebagai orang tak bermillik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
Ketika saya ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang melayani di berbagai kota di Indonesia, saya mendengar mereka yang walaupun berada di rumah namun penuh dengan kesibukan pelayanan. Selain berkotbah, hamper setiap hari jemaat beramai-ramai tergerak untuk mengadakan kegiatan sosial. Jemaat secara bergantian memberi persembahan untuk penyediaan nasi bungkus, masker dan sembako untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah-tengah kedukaan mereka menjadi suka-cita bagi orang lain, di tengah-tengah kekurangan masih bisa berbagi. Bagaimana dengan anda?
Kehidupan Paulus mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan kita ini jangan dibuai terus dengan kondisi dan keadaan. Ketika kita sedang bersuka-cita kita juga harus menghargai orang-orang yang berduka-cita , sehingga ada rasa simpatik dari hidup kita terhadap hidup orang lain. Sebaliknya Ketika kita sedang berduka-cita, jangan pula kita dihanyutkan dengan rasa kedukaan terus-menerus sehingga hidup kita seperti tidak berpengharapan, dan melalaikan diri memperhatikan kehidupan orang lain. Sebagai orang percaya, harus menyadari bahwa semua yang ada di dunia itu sifatnya sementara, sehingga walaupun kita berduka kita mesti belajar seperti rasul Paulus yang senantiasa bersuka-cita. Orang percaya jangan menaruh pengaharapan yang terlalu besar dari orang lain, karena kita bakal kecewa. Saat keadaan seperti begini, bila kita kesulitan jangan terlalu berharap bisa mendapat bantuan orang lain, kadang jangankan kita berharap pada bantuan pada orang lain, orang yang pernah kita tolong saja pun sulit dihubungi. Teman saya bilang begini “ Jangankan engkau minjam sesuatu pada orang lain, kadang di saat susah untuk meminta kembali pinjamanpun terasa lebih sulit.? Mudah-mudahan bukan pengalaman anda. Berharaplah pada Tuhan, dia yang membuat kita bersuka-cita walaupun susah.
Bersuka-cita senantiasa merupakan tanda kehidupan orang percaya dan menunjukkan bahwa hidup kita ini tidak berdasarkan alasan duniawi, di dalam kegemerlapan dunia, di dalam kegelimangan harta kekayaan, di dalam kelimpahan makaanan, belum tentu dapat membawa kita bersuka-cita. Namun di dalam Tuhan, sudah pasti membawa kita menikmati suka-cita itu. Makanya orang percaya terkenal sekelompok orang yang bernyanyi, puji-pujian, itu artinya ia senantiasa bersuka-cita dalam segala keadaan.
Orang -orang yang berada di dalam Tuhan, akan bersuka-cita walaupun mendapat hinaan, cemooh dan caci maki, maka emosi nya stabil terjaga, ia tidak bakal terpancing atau terpengaruh. Lebih baik mengalah itu motto hidupnya, mengalah untuk menang. Tetapi jika hidupmu tidak di dalam Tuhan maka hidupmu sangat sensitive, mendapat sedikit sindiran saja , kemarahannya seperti bom atom yang meledak.
Belajarlah seperti Paulus yang bersuka-cita senantiasa, dalam segala keadaan , bahkan tatkala dalam keadaan berduka-cita ia tetap bersuka-cita. Saya rindu seperti rasul Paulus, kiranya anda juga.

San Francisco,
Mei 26 . 20
Pdt. Saumiman Saud

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kebaktian Minggu ONLINE, Jam 11am , Mei 24

Posted in Uncategorized | Leave a comment

WE ARE THE CHURCH, WE ARE THE CORNERSTONE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Davidsyay@home, Sunday Service 11 am

DAVIDSTAY@HOME

Image | Posted on by | Leave a comment

ONLINE SERVICE, MINGGU Jam 11 am

MINGGU SF ONLINE

Image | Posted on by | Leave a comment