Minggu 19 Agustus 2018 6th Cornerstone

03bda2ad-2127-4f3f-ac17-39738f2aa578-thumb

Advertisements
Image | Posted on by | Leave a comment

“SEBELAH LUAR TAMPAK BERSIH”

(ilustrasi)

KALI YANG BAU, DITUTUP JARING

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. [Matius 23:27]

Yang bernama bau senantiasa tersebar, selama belum dibersihkan. Konon dalam rangka menyambut Asian Games 2018, Jakarta dan Palembang sebagai tuan rumah, mencoba membenahi kota, sehingga tiba harinya penyambutan tidak malu menyambut tamu yang jumlahnya puluhan ribu orang.

Berbagai tempat arena dibangun dan direhab sejak satu tahun belakangan ini, dan satu-persatu tempat sudah diselesaikan.

Menjulang hari “h” maka persiapan makin gencar termasuk hal-hal kecil misalnya pengibaran bendera para peserta Asian Games ini. Namun yang bermasalah adalah pemasangan benderanya memakai tiang bambu. Jakarta dianggap tidak menghargai negara lain dan akhirnya tiang bambu bendera itu dicabut kembali.

Pekan lalu, kembali kita dihebohkan dengan penutupan kali Sentiong yang hitam dan bau itu dengan Jaring hitam. Hal ini mengundang reaksi lagi dari berbagai kalangan, hingga presiden harus turun tangan. Kali yang ditutup jaring itu rupanya tetap saja bau, dan barangkali juga merusak pemandangan. 5000 orang dikerahkan oleh presiden, berikut peralatan untuk kebersihan, sehingga diharapkan bisa bersih dan tidak bau segera.

Namun di tengah-tengah proses ini terdengar lagi informasi akan disemprot minyak wangi oleh pihak Jakarta. Namanya saja bau , kalau hanya sekadar disemprot maka tetap aja bau.

Seperti kutipan ayat di atas, jika kubur (bangkai ) ditutup, dicat ( labur) putih, tetap saja isinya bangkai.. jadi kalau kotor harus dibersihkan. Manusia yang sudah berdosa seperti kali hitam, jadi harus disucikan dosanya dengan darah Kristus, tidak bisa dengan hanya ditutup dengan KEBAIKAN kita saja. (Thesaud)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HUT ke 6th Cornerstone & Hut ke 73 RI

03bda2ad-2127-4f3f-ac17-39738f2aa578-thumb

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebaktian Minggu 22 July 2018, jam 2 pm

MINGU 22 JULY

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebaktian khusus 29 Juli 2018, Pdt. Agustina Manik, Surabaya.

IMG_20180709_022230_644

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebaktian Kemerdekaan

FB_IMG_1530647682214

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebaktian Minggu, 01 July 2018

MENGUASAI 01 JULY

Image | Posted on by | Leave a comment

Apakah engkau Mengasihi Aku?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The road to Emmaus, once Opportunity to move on

emmaus

Lukas 24:13-35
Dua orang murid Yesus, Kleopas dan Simon dengan wajah muram memperbincangkan bagaimana Yesus telah mengalami penderitaan, mati di kayu salib dan bangkit. Rasa galau membuat mereka meninggalkan kawan-kawannya dan diperkirakan kembali ke kampungnya. Bahkan saking galaunya barangkali konsentrasinya tidak fokus. Selaput mata mereka seperti tertutup sehingga mereka tidak kenal gurunya. Hal positip dari kebiasaan orang Yahudi adalah, tatkala berjalan bersama mereka bukan membicarakan orang lain (gossip), tetapi mereka berbicara masalah keagamaan.
Kleopas dan Simon sebagai murid Yesus tentu telah mendapat banyak pengajaran dari Sang Guru. Tetapi mereka rupanya hampir sama dengan sebagian jemaat jaman now, yang mengerti firman Tuhan dengan dicomot-comot ayatnya. Yesus datang ke dunia untuk menjadi juruselamat manusia, tetapi murid-muridNya tetap berpikir bahwa Yesus hendak menjadi raja. Itu sebabnya maka mereka kecewa sekali apabila Yesus menyerahkan Diri untuk disalib.Itu sebabnya kedua murid ini meninggalkan teman-temannya, barangkali untuk mengambil waktu tenang. Namun celakanya, karena berita tentang Yesus menjadi viral dan tranding topik, maka biarpun mereka pergi jauh, namun topik ini tetap senantiasa diperbincangkan.
Konsep yang salah tentang Tuhan Yesus menyebabkan kegalauan mereka. Padahal sejak awal, Yesus sudah memberitahukan orang Israel bahwa Dia datang ke dunia bukan memerintah dunia, tetapi IA diutus untuk menderita supaya menyelamatkan manusia. Makanya Yesus berkata bahwa : Lukas 24:25-26 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Orang percaya mesti memiliki konsep yang benar terhadap pengajaran firman Tuhan.
Contoh praktis misalnya: firman Tuhan jelas berkata, mereka yang percaya pada Yesus harus memikul salib, konsep yang salah mengajarkan percaya Yesus segala sakit-penyakit hilang. Nah, apabila anda mengambil konsep pengajaran yang salah itu mentah-mentah, jangan heran pula anda menjadi galau, karena tidak sesuai dengan yang anda harapkan. Jadi, belajar dan mengerti yang benar tentang firman Tuhan sangat penting, jauhkan dari sikap menghindari persekutuan.
Acapkali kita tatkala kita berhadapan dengan persoalan yang rumit, kita tinggalkan persekutuan dan bahkan Tuhan. Padahal persekutuan itu didesain untuk kita saling menguatkan, memberi perhatian.
Jangan pernah lagi kita jatuh pada sikap yang keliru.
Ingat, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Di mana saja, kadang tanpa kita sadari Tuhan hadir bersama kita, seperti yang dialami oleh dua orang murid Yesus yang berjalan ke Emaus.
Tatkala murid-murid Yesus menyadari bahwa Yesus senantiasa bersama mereka, maka kegalauan mereka diubah. Mereka tidak lagi bermuram durja, tetapi mereka harus bangkit.
Sebelum sadar, mereka sudah seperti putus asa tetapi setelah sadar mereka bangkit dengan penuh pengharapan. Sebelum sadar mereka bercerita tentang suasana suram, kematian Yesus, setelah sadar mereka berbicara tentang kebangkitan Yesus. Perjalanan menuju Emaus merupakan suatu momen move on.
Sebagai orang percaya, kita juga harus move on, karena keselamatan yang Tuhan berikan secara cuma-cuma pada kita, tidak boleh membuat kita berdiam diri tetapi mesti bangkit mengabarkan Injil. Lukas 24: 34-35 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah move on?
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kebaktian Minggu, 15 April 2018.

FB_IMG_1523469302927

Image | Posted on by | Leave a comment