JUST AS I Am, Lagu Kesukaan Alm. Rev. Billy Graham

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

WAKTU YANG BERHARGA

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERCERAIAN ITU JAHAT, TETAPI APA BOLEH BUAT!!!

DEEVORCE

Perceraian itu jahat, tetapi apa boleh buat!!!!
Oleh : Saumiman Saud

(Red: Tulisan ini dibuat dari sudut pandang agama Kristen)

Tatkala berbicara tentang perceraian maka Yesus mengatakan bahwa Musa mengizinkan perceraian, itu semata-mata karena “ketegaran hatimu”, atau karena “tegar tengkuknya” orang-orang Israel (lih Mat 19:8). Musa tahu bahwa perceraian itu jahat, tetapi apa boleh buat. Kemudian muncul pertanyaan lagi apakah dengan demikian Tuhan Yesus menolak perceraian itu sama sekali? Sebenarnya Alkitab secara tegas menolak akan perceraian, apapun alasannya. Perhatikan dan baca Kej 2:24, lalu juga 1 Kor 7:10 bandingkan juga dengan Mal 3:15,16. Dan bahkan rasul Pauluspun tahu bahwa adalah lebih baik kalau seseorang itu “tidak kawin” 1 Kor 7:1, tetapi karena mengingat bahaya percabulan, atau godaan-godaan seksual maka “lebih baik kawin”, supaya sah dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Perhatikan ayat 6 rasul Paulus katakan ini semua sebagai suatu kelonggaran. Sekali lagi ternyata “Kawin itu juga Jahat?”, tetapi apa boleh buat? Benarkah begitu?

Perceraian diizinkan pada batas kondisi sebagai berikut, biasanya pada tahap apa boleh buat, yakni:
1. Bila teman hidup melakukan pelanggaran seks seperti perzinahan atau homoseks (Lesbian), dan tidak berniat untuk bertobat atau mencari pengampunan Allah, atau meninggalkan dosa untuk kembali setia kepada istri maupun suaminya.

2. Bila salah satu meninggalkan pasangannya, khususnya bila pasangan tidak beriman yang meninggalkan pasangannya yang percaya dan menikah dengan orang lain. (lihat 1 Korintus 7:15).

3. Kasus khusus yakni mati, itu berarti pasangan tersebut tercerai secara otomatis. Kasus yang ini tentu di luar jangkauan manusia. Jika sebelum menerima Kristus, seseorang telah menikah dan kemudian bercerai, dia harus tetap pada keadaannya itu. Jika seseorang sempat menikah ulang, dia harus berupaya agar perkawinannya kedua berhasil. Meninggalkan pasangan kedua untuk kembali kepada pasangan yang pertama, adalah salah. Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran.

Gereja, sesuatu dengan peraturannya biasanya tidak melayani pemberkatan nikah kedua, artinya sebelum salah satu pasang meninggal dunia gereja tidak akan memberkati pasangan yang pernah bercerai untuk menikah; sebab ini merupakan pelanggaran janji setianya dihadapan Allah (bandingkan dengan 1 Korintus 7:39). Berpasangan dengan orang yang bukan Kristen, bukanlah alasan untuk bercerai. Sebaliknya, yang Kristen dianjurkan untuk hidup berdamai dengan pasangannya yang bukan Kristen, ia harus menjadi teladan supaya memenangkan pasangannya ke dalam iman pada Kristus (1 Kor 7:12-16).

 

Di gereja banyak kaum wanita yang bersaksi bagaimana suaminya boleh percaya pada Yesus dan memperoleh keselamatannya ketika mereka sudah menikah puluhan tahun. Tuhan Yesus sedang menguji kesabaran dan ketekunan kita. Bagi orang-orang yang beriman lemah, Tuhan Yesus tahu itu dan kemungkinan besar mempercepat pasangannya percaya Yesus. Namun, bagi yang pasangannya sudah cukup lama, namun masih belum menerima Tuhan Yesus, mungkin anda adalah orang yang mempunyai iman yang kuat dan Tuhan sedang mengujinya. Sesekali jangan mengartikan dengan Tuhan tidak mengasihi anda atau meninggalkan keluarga anda, sebab cara ini akan memperlemah iman kepercayaan anda. Sesuatu yang sangat perlu kita perhatikan adalah, orang menerima Tuhan Yesus itu tidak bisa dengan paksaan, semua itu harus melalui pengalaman pribadinya pada Tuhan dan sifatnya suka-rela dan bertahap.

Sebab-sebab sebuah Perceraian:
Alkitab tidak pernah merestui adanya perceraian, sebab perceraian merupakan suatu penghacuran terhadap janji setia pernikahanpada Tuhan . Dalam janji nikah yang diucapkan dihadapan Allah, mereka harus sehidup-semati, baik kaya maupun miskin, baik sehat maupun sakit, baik senang maupun susah dan sebagainya. Namun kenyataannya di dunia masih ada pasangan yang melanggar janji setia itu. Beberapa alasan umum yang sering menyebabkan suatu perceraian antara lain:

A. Ekonomi
Bukankah ketika pendeta memberkati pernikahan di gereja sudah diadakan perjanjian bahkan seperti sumpah setia bahwa kedua mempelai itu akan setia sampai mati, baik dikala kaya atau miskin, sehat ataupun sakit?. Namun kenyataannya ada banyak pasangan yang menganggap janji di atas hanya sekadar janji biasa, padahal mereka sedang berjanji dihadapan Tuhan. Tidak jarang jarang kita melihat hanya masalah uang, perceraian itupun terjadi. Apakah pernikahan itu hanya karena uang?

Memang kadang kala ada pria yang kelewatan, sering kita dengar para wanita mengeluh sebab suaminya tidak mau bekerja, mabuk-mabukan, narkoba lalu (maaf) main perempuan lagi, bahkan menyusahkan pihak isteri.  “Bagaimana pernikahan kami bisa bertahan, anak-anak butuh kasih-sayang, susu dan makanan, uang sekolah dan sebagainya. kita mengalami kesulitan memaksa keluarga yang demikian supaya bersatu, tetapi sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa Tuhan sanggup mengubah seseorang, maka tidak salahnya apabila kita mendoakan mereka; tetap bukan menyarankan supaya bercerai. Sebaliknya, mungkin Tuhan memberkati dengan limpah, lalu keluarga itu menjadi kaya raya. Sang suami atau istri mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan kegiatan-kegiatan lainnya. Akhirnya juga bisa terjadi perceraian karena perhatian semua dicurahkan kepada mencari uang. Itulah sebabnya ada orang yang berpendapat “Biarlah miskin tetapi keluarga bahagia”, namun bukankah alangkah baiknya pendapat ini boleh diubah “biarlah kaya tetapi keluarga tetap bahagia juga”.

B. Berselingkuh
Perselingkuhan sering terjadi mungkin karena kurangnya perhatian dari pasangan kita, karena perpisahan yang cukup lama satu dengan yang lain, dekat dengan sekretaris atau orang sekantor dan sebagainya, belakangan ini aktif di media sosial misalnya facebook, WA juga menjadi penyebab utamanya.  Sebagai orang percaya seharusnya hal ini tidak perlu terjadi apabila kita memberi batasan terlebih dahulu, misalnya kita harus sadar bahwa “kita sudah menikah”, lain halnya apabila masih berpacaran, masih banyak pilihan. Tetapi apabila seseorang sudah menikah maka jangan sesekali memberi kesempatan seperti itu. Demikian juga kita perlu jaga jarak terhadap wanita atau pria yang sudah menikah. Kadang kala dengan cerita penuh humor, perhatian yang terlalu mendalam, memberi hadiah dan sebagainya bisa membuat seseorang salah pengertian. Harus hati-hati dan dijaga supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Sebab apabila sudah terlanjur “cinta” maka sangat sakit dan sulit untuk dipisahkan. Bagi yang menikah ingatlah keluarga anda di rumah, dan bagi yang belum menikah anda diminta jangan merusak rumah tangga orang lain. Bukankah dunia tidak selebar daun kelor?

C. Tidak Cocok, Bertengkar terus
Sebenarnya pertengkaran atau cekcok itu wajar dalam suatu pernikahan, ada orang yang mengatakan itulah “pelangi” atau “keindahan” sebuah pernikahan. Yang penting adalah sebuah pertengkaran itu jangan lari dari masalah pokok yang terjadi. Sering kali yang terjadi di dalam pertengkaran itu tidak kunjung habis, karena masing-masing mengorek-ngorek kesalahan masa lalu. Mungkin kejadiaanya sudah 5 atau 10 tahun yang lalu, tetapi diungkitkan lagi; padahal sesungguhnya persoalannya dimulai dengan hal yang kecil, misalnya lupa mengunci pintu rumah, ketemu mantan pacar di gereja dan sebagainya. Yang paling penting diperhatikan di dalam pertengkaran itu adalah hendaknya kita mempunyai prinsip bahwa kejadian itu harus selesai sebelum matahari terbenam, sesuai dengan prinsip Alkitab. Jangan pernah terucap kata “minta cerai” terhadap pasangannya, karena ini sangat menyakitkan, apalagi sampai yang wanita membawa koper kembali ke rumah orang tua. Syukur kalau sang suami mau jemput pulang, kalau sama-sama gengsinya, maka akan timbul perceraian.
Seorang teman saya baru-baru ini pernah menceritakan tentang keluarganya, beliau pertama menikah sering sekali bertengkar, karena selain pacarannya secara kilat dan ia menemukan banyak perbedaan di antara mereka berdua. Namun ia harus belajar tahan menghadapi kenyataan hidup ini. Sekarang anak mereka sudah dua dan hidup mereka bahagia.

D. Penyiksaan
Masalah penyiksaan ini sering juga terungkap terhadap beberapa pasangan pernikahan yang pada mulanya di luar dugaan mereka. Ada yang karena kelainan seks sehingga ia akan merasa terangsang apabila dengan menyakiti pasangannya, bila perlu sampai tubuhnya terluka-luka. Ada yang sering memukul pasangannya apabila terjadi pertengkaran dan tidak jarang mengluarkan benda-benda tajam untuk mengancam pasangannya. Nah kalau hal ini terus-menerus terjadi bagaimana keluarga ini dapat bertahan? Wajarnya memang keadaan seperti ini tidak boleh terjadi terhadap pasangan suami-istri, tetapi kenyataannya ada keluarga yang menghadapi demikian.

 

Saya pernah menemukan seorang wanita yang sering dipukul oleh suami pada waktu muda, sekarang ia seperti orang gila karena stress. Ia berusaha menahan, sabar, tetap mau bersatu, namun orang-orang tidak mengerti dia, dan akhirnya ia seperti hampir gila. Bagi yang tidak tahan maka, ia akan mengambil langkah terakhir yakni perceraian. Seandainya perceraian merupakan alternatif terakhir, maka sebagai konsekwensinya ia harus tetap membujang (lihat 1 Korintus 7:10-11 dan Matius 19:9). Seorang ahli psikologi menyarankan bahwa kalau anda sampai menemukan pasangan yang demikian, hendaknya tindakan yang diambil pertama kali bukan bercerai, namun bagaimana mengobati penyakit ini. Mungkin caranya harus berpisah dahulu untuk “sementara waktu” atau bagaimana; namun disarankan hendaknya dikonsultasikan dengan para ahli.

E. Sakit / cacat tubuh
Sebenarnya masalah sakit penyakit bukan merupakan alasan bagi sesorang untuk bercerai. Ada banyak pasangan yang penuh kesabaran merawat sang suami atau istri yang karena sesuatu penyakit harus berbaring cukup lama di tempat tidur bahkan sampai akhir riwayat hidupnya. Di sinilah letak kesetiaan dan cinta kasih seseorang terhadap pasangannya diuji. Sesuai dengan janji pernikahkan maka sakit penyakit bahkan sampai cacat bukan merupakan alasan seseorang untuk bercerai. Sebab bagi orang percaya kita harus menerima kenyataan ini, walaupun pahit seperti empedu. Berdoalah minta kekuatan dari Tuhan supaya menghadapi persoalan-persoalan yang sukar.

F. Perbedaan agama
Memang tidak semua pasangan bercerai karena masalah perbedaan agama. Banyak pasangan justru bisa membawa pasangannya kepada Kristus. Tetapi kita tidak menutup kenyataan ada pasangan tertentu yang mengalami kesulitan akibat perbedaan agama. Terutama mereka yang sebagai istri. Sebelum menikah masih ada kelonggaran boleh ikut kebaktian maupun pelayanan, tetapi setelah menikah mulailah dibatasi; sampai akhirnya hadir ke gerejapun tidak boleh. Inilah yang bisa menyebabkan pasangan suami-istri itu bubar.

Oleh sebab itu sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka idealnya setiap anak Tuhan harus memilih pasangannya yang juga percaya kepada Tuhan Yesus, supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi. Namun apabila sudah terlanjur menikah, cobalah kita berdoa buat pasangan kita ini; sambil tetap bertahan terhadap iman kepercayaan kita. Jadilah teladan melalui hidup kita sehari-hari, sebab dengan cara demikian kita akan menjadi saksi Kristus secara tidak langsung.

Resiko Sebuah Perceraian
1. Khususnya bagi anak-anak mereka, kemungkinan besar menjadi terlantar. Mengapa tidak? Sebab ketika ayah dan ibu mereka kawin lagi dengan orang lain, maka mereka telah memperoleh apa yang disebut ayah atau ibu tiri. Sebaik-baiknya ayah atau ibu tiri pasti berbeda dengan yang kandung. Memang ada yang baik sekali, tetapi tidak 100% yang demikian bukan? Apalagi pada saat mereka menikah, pasangan yang lain masih hidup. Pertengkaran selalu cenderung terjadi, terutama terhadap pasangannya yang lama; dan hal ini sangat menyusahkan anak-anak, mereka akan menjadi malu, rendah diri dan sebagainya.

2. Perceraian menimbulkan suatu luka yang tidak mungkin disembuhkan. Ini diibaratkan dengan cinta yang terkoyak-koyak, kacah yang pecah yang tidak dapats dilekatkan kembali. Pasti ada bekasnya.

Menimbang Resiko yang Bakal Terjadi:
1. Senang atau tidak senangkah Allah?
Jelas Allah tidak pernah senang akan perceraian, sebab di dlaam Alkitab tertulis apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.

2. Membawa pengaruh buruk bagi orang lain, anak-anak, orang tua sanak keluarga. Secara psikologi perkembangan anak sangat terpengaruh, apalagi para tetangga yang suka gosip ditambah dengan teman-teman sekolah yang suka mengejek, hal ini pasti sangat mengganggu mereka. Anak-anak akan merasa tertekan, kurangnya kasih sayang dan akhirnya cenderung mereaka berontak untuk mencari perhatian dan menjadi brutal. Tidak jarang mereka yang terjerumus di dalam Narkoba ini adalah anak-anaka yang kelurganya bermasalah.

3. Sungguhkah ini menyelesaikan masalah atau justru menciptakan masalah baru.
Jelas perceraian menimbulkan masalah baru, karena kasih sayang yang semuala utuh sekarang retak. Belum lagi ditambah dengan penderitaan yang bakal dialami oleh anaka-anak. Mereka merasa rendah diri, takut diejek teman, malau pada guru, tetangga serta handai-taulan, sebab peristiwa orang tuanya selalu diungkit kembali tatkala mereka berada dilingkungan yang mengenalnya. Mungkin tidak secara langsung, tetapi biasanya dengan berbisik orang-orang sekitar akan membicarakan masalah perceraian orang tua mereka itu. Inilah maslaha baru yang senantiasa dihadapi anak-anak yang orang tuanya bercerai.

4. Perceraian adalah suatu pengalaman emosional buruk yang membekas sangat dalam.
Perceraian membuat retak sebuah kasih yang sudah terjalain, di situ ada sakit hati, dendam, benci, kemarahan dan sebagiainya, dan semua itu mebekasa sanagt mendalam serta tidak mungkin terlupakan. Mungkin bagi mereka yang bercerai mengatakan bahwa pa yang sudah terjadi telah dilupakan, namun sesungguhnya mereka terus menerius mengingatnya. Kesedihan, penyesalan tidak pernah terhenti walaupun sesunggguhnya mereka telah mendapat pasangan yang baru.

Mencegah sebuah Perceraian
1. Mulai mencari jalan keluar dengan penuh rendah hati, dan mengampuni.
(lih Mat 18:21,22) Dalam hal mengampuni ini tidqa gampang, apalagi didapati pasangan suami istri itu terdapat perselingkuhan. Adanya orang ke tiga, yang biasanya disebut WIL atau PIL (Wanita/Pria Idaman Lain).

2. Mengalah, berapa lama? Apa batasnya?
Seandainya di dalam keluarga terjadi pertengkaran, salah satu pasang harus berusaha mengalah untuk meredahkan emosi yang lebih memuncak lagi. Apabila keduanya saling ngotot tidak mau mengalah, maka resiko untuk mencapai pertengkaran besar bahkan perceraian sangat terbuka. Sebab di saat emosi sesorang akan mengambil keputusan-keputusan yang tidak rasionil dan sering kali menyakiti hati orang lain.. Menurut pengajaran Tuhan Yesus, setiap orang yang percaya diminta mengalah dan mengalah itu tanpa batas.

Sikap Gereja, Bagaimana?
Sebelum pasangan suami isteri diteguhkan dalam ikatan pernikahan, terlebih dahulu gereja sudah harus menamamkan prinsip Alkitab dalam rencana pernikahan mereka. Itulah sebabnya ada semacam katekisasi atau konseling pra-nikah. Di gereja tertentu malah dilengkapi dengan pemeriksaan medis. Konseling pra-nikah dimaksudkan agar seandainya kalau pasangan tersebut memang tidak cocok, mereka diberikan kesempatan untuk berpisah atau mencari pasangan yang lain sebelum pernikahan berlangsung. Dengan demikian diupayakan mereka tidak akan mengalami penderitaan dalam pernikahan mereka yang membawa kepada perceraian.

 

Gereja harus bersikap tidak mengenal adanya perceraian, dan ini harus konsisten. Sering terjadi misalnya di gereja si A tidak diijinkan untuk diberkati karena kasus perceraian, namun orang tersebut pergi ke gereja B tidak masalah, bahkan pemberkatan bisa dilaksanakan di gereja tersebut. Dengan cara yang demikian jemaat itu merasa bingung akan pengajaran hamba Tuhan yang satu dengan yang lain, tidak sama. Walaupun sesungguhnya masalah boleh atau tidak boleh diberkati di gereja tidak menyangkut masalah keselamatan, tetapi biarlah wibawa gereja tetap dapat ditegakkan, karena kita hormati bahwa gereja adalah tempat yang kudus. Oleh sebab itu sanksi ini hendaknya dipertahankan, supaya setiap pasangan sungguh-sungguh menjaga keutuhan pernikahan. Jikalau memang ada masalah atau konflik dalam keluarga, hendaklah secepatnya diselesaikan dengan baik. Jangan terbawa berlarut-larut sehingga menumpuk seperti gunung es batu yang kokoh.

Berusahalah sekuat mungkin menghindari perceraian, namun kejarlah perdamaian dengan pertolongan kasih sayang Allah kita. Kepada orang tua diharapkan supaya turut membantu memelihara keutuhan keluarga anda, masa depan anak-anak pasti terganggu dengan orang tuanya yang bercerai. Bagi yang belum menikah pikirkanlah secara matang untuk mengambil keputusan nikah. Jangan kita menelantarkan orang lain khususnya anak-anak yang tidak tahu-menahu akan persoalan orang tuanya. Kasihan!

 

*Tulisan singkat yang jauh dari kesempurnaan, jikalau anda memiliki informasi yang lebih banyak, jangan sungkan share dan bagikan untuk melengkapinya.

*) Penulis adalah rohaniwan & pemerhati yang melayani di Gereja Cornerstone Indonesia dan berdomisili di San Francisco

DEEVORCE

Posted in Uncategorized | Leave a comment

RESOLUSI TAHUN BARU 2018

RESOLUSI TAHUN BARU 2018

2 Tesalonika 1:11-12

“Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus Tuhan kita dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah dan Tuhan Yesus Kristus”

“Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, ” (Yesaya 43:18-19), ayat tersebut diberikan sebagai penguatan agar setiap orang dapat membuat sebuah resolusi tahun baru dengan berfokus kepada Tuhan.

Ada orang yang bertanya, masih haruskah saya berbuat janji resolusi di tahun baru? Kenapa, karena setiap tahun kita membuat resolusi itu dan setiap tahun pula kita tidak menuruti resolusi itu. Resolusi merupakan suatu komitmen supaya kita melakukan sesuatu yang lebih baik di masa mendatang. Jadi bila demikian definisinya maka tentu kita tidak berani berkata bahwa resolusi itu tidak perlu, walaupun mungkin berkali-kali kita tidak memenuhi janji kita, tetapi paling sedikit kita masih ingat bahwa kita ada janji tersebut dan masih ada harapan.

Dari ayat Alkitab yang kit abaca, kita mengerti bahwa kita adalah orang berdosa, itu sebabnya hidup kita setiap hari menanti belas kasihan dari Tuhan. Kita tidak layak dan tidak pernah bisa menjadi layak, kita hanya dilayakkan oleh Anugerah-Nya, bukan karena tindakan kita.  Itulah sebabnya rasul Paulus berkata “karenba itu kami senantiasa (selalu, tidak jemu-jemu, tidak bosan-bosan, berulang-ulang) berdoa untuk kamu.  Supaya Allah kita menganggap kamu layak. Bagaimana caranya mewujudkan resolusi (komitmen) tahun baru kita?

  1. Oleh Anugerah Tuhan

 Manusia butuh Tuhan, namun butuh Tuhan bukan berarti manusia itu tinggal diam begitu saja. Mengakhiri tahun ini, bukan berarti kita harus membawa segala sesuatu yang tidak berguna pada tahun ini untuk memulainya di tahun yang baru. Nabi Yesaya mengingatkan supaya Jangan diingat-ingat lagi hal-hal yang dahulu. Jikalau kenangan itu indah merupakan kenangan pahit yang membuat kita selalau bersungut-sungut dan merusak pemikiran kita, jika itu kenangan manis juga hanya merupakan kenangan manis saja, yang penting saat ini.

Secara manusia kita tidak sanggup, kita tidak dapat memenuhi standard Tuhan. Perbuatan baik kita tidak cukup, karena kita menyimpan rasa egois, kita menyimpan kepentingan sendiri.  Sebaik-baiknya kita berbuat kepada orang pasti ada cacatnya. Si A merasa engkau baik, si B belum tentu merasakannya. Si A merasa kamu baik karena setiap minta tolong padanya selalu ditolong, si B tidak merasakan itu karena tatkala ia meminta pertolongan padamu, kamu lagi sibuk sehingga kamu tidak dapat menolongnya. Manusia tidak sempurna, tidak bisa melawan standard Allah yang sempurna.

Latar belakang jemaat di Tesalonika ini telah dipengaruhi ajaran gnostic yaitu semacam pengajaran yang mengajarkan bahwa kedatangan Tuhan telah tiba, jadi mereka tidak perlu lagi berbuat apa-apa, menganggap diri telah disempurnakan sehingga hidup mereka menjadi sewenang-wenangnya. Konsep seperti ini juga selalu mempengaruhi jemaat gereja masa kini, yang berpikir bahwa Yesus telah mati untuk dirinya, ia sudah mengalami keselamatan itu dan boleh saja berbuat sesuka-hati. Paulus menasihati kepada jemaat Tesalonika supaya berpegang teguh pada firman Tuhan, artinya jangan sesuka hati hidup dan ia senantiasa berdoa untuk mereka.

Kekayaan tidak menjamin orang itu memiliki kesempatan untuk hidup, karena hidup itu adalah anugerah. Kemari nada berita di Singapore, salah seorang cucu perempuan konglomerat alm Liem mendadak meninggal dunia. Orangnya cantik, kaya dan masih single, tentu  menjadi tumpuan harapan banyak pemuda , tetapi apa lacur , Tuhan berkehendak lain, ia dipanggil pada usia 39 tahun. Hanya oleh anugerah saja kita menjalani hidup ini.

  1. Dengan iman kepada Kuasa Tuhan

 Dengan kekuatan sendiri sudah pasti kita tidak sanggup, kita juga tidak bisa berharap pada pertolongan manusia. Kita mesti mengandalkan Tuhan dengan iman kita. Artinya dengan percaya sepenuhnya kepada Tuhan.

Sabtu 16 Desember 2017 yang lalu, kira-kira jam 4.00 sore saya menerima telpon dari salah seorang anggota gereja bahwa suaminya yang dalam perjalanan menuju ke gereja untuk merayakan natal ditabrak oleh sebuah mobil. Saat itu ambulance sedang mengantarkan suaminya menuju ke Rumah Sakit Umum. Apa yang saya bisa lakukan waktu itu? Jam menunjukkan waktu segera perayaan natal, sementara ada teman gereja yanbg butuh bantuan. Satu-satunya yang dapat kita lakukan hanya berdoa dan berserah pada Tuhan.

Bagi orang percaya, artinya kita yang mengaku Tuhan itu Juruselamat kita, sebenarnya sesuai dengan iman kita Tuhan itu tidak pernah meninggalkan kita, IA senantiasa Bersama kita. Masalahnya adalah, maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya dan mempercayakan kepada kuasaNya bekerja dalam hidup kita.

Contoh : Sebuah sarung tangan tidak mungkin dapat mengangkat Alkitab dengan sendirinya, tetapi IA harus dipakai oleh Tangan untuk mengangkat Alkitab.  Tangan itu yang disebut dengan Living Hand untuk mengangkat Alkitab itu.  Sarung tangan tidak dapat bergerak sendiri, walaupun kita berikan temannya, maksudnya kita ambil lagi beberapa dan dicampur.

 3. Untuk Kemuliaan Nama Tuhan

 Perlu diingat bahwa segala keberhasilan dan apapun itu namanya, tidak ada yang  perlu dibanggakan oleh manusia itu sendiri. Manusia hanya sebagai alat yang dipakai Tuhan. Itu sebabnya maka kemuliaan hanya bagi Tuhan, Dia yang dipuji, Dia yang berjasa.   Pujian hanya bagi nama Tuhan.

Yang menjadi masalahnya adalah manusia itu tidak rela dipakai Tuhan, karena sejak dahulu sifatnya berontak.

Manusia mau enaknya saja, baik itu dalam hal memilih pekerjaan, menjalani kehidupan dan mengarungi masa depan. Ada banyak rencana dari manusia yang muluk-muluk, tetapi yang menentukan adalah Tuhan.

Mazmur 37: 23-24 “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak.”  Kata menetapkan (ordered) boleh diartikan dengan Tuhan yang mengatur kehidupan orang yang berkenan. Jadi jika kita memang berkenan dihadapan Tuhan , apa lagi yang ditakutkan. Makanya kita harus berusaha hidup berkenan dihadapan Tuhan. Orang yang berkenan dihadapan Tuhan tentu ia tidak melakukan hal-hal yang menyusahkan hati Tuhan. Ingat , Tuhan tidak mengatakan bahwa orang yang berkenan di hadapan Tuhan itu bebas dari masalah, tidak, mungkin orang tersebut juga mengalami penderitaan. Tuhan malah mengatakan jika ia jatuh, tidak sampai tergeletak.    Roma 8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36)

Mari kita meujudkan resolusi Tahun Baru kita,  karena hanya oleh Anugerah Tuhan, dengan iman kepada kuasa Tuhan dan  untuk Kemuliaan Tuhan.   Raih Kemenangan dari Tuhan.

San Francisco, 31 Desember 2017

Saumiman Saud

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rangkaian Acara di Cornerstone Hadir & Bawa teman-teman Anda…

This gallery contains 4 photos.

Gallery | Leave a comment

HAPPY THANKSGIVING 2017

HAPPY THANKSGIVING

Image | Posted on by | Leave a comment

Natal di Gereja Cornerstone , Sabtu 16 Desember 2017 Jam 4.30

NATAL 2017

Image | Posted on by | Leave a comment

Thanksgiving Dinners, 26 Nov 2017, Jam 2 pm. 501 Cambridge St. San Francisco, CA

thanksgiving 2017

Image | Posted on by | Leave a comment

Kebatian Minggu, 5 Nop 2017

NOP 5 COVER

Image | Posted on by | Leave a comment

HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

Kembali kepada Alkitab {Back to Bible}, inilah semangat reformasi, karena peraturan dan konsep serta teori yang dibuat oleh manusia termasuk para oleh para ahli atau petinggi gereja itu bisa salah. 500 tahun lalu kedapatan bahwa telah terjadi penyelewengan dari pengajaran gereja, salah satunya adalah penjualan surat indulgensi untuk penghapus dosa, padahal dosa kita dihapus tidak perlu dengan cara membayar uang apapun.Kalau dosa dihapus bisa dengan cara berbayar, maka orang yang kaya akan bersih dari dosa, sedangkan yang miskin akan penuh dosa.

 

Alkitab mencatat bahwa hanya percaya kepada Dia maka kita beroleh selamat. [Yohanes 3:16 Karena begitu besarnya Allah mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.] Sekarang timbul pertanyaan , loh kenapa begitu gampang? Memang gampang sih, karena yang sulit sudah dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib. [Kisah 4 :12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” ]

 

Sekarang muncul lagi pertanyaan? Apakah orang yang sudah diselamatkan itu tidak dapat berdosa lagi? Ingat, bahwa kita ini manusia, yang telah memiliki akar dosa, itu sebab maka hidup kita rentan terhadap dosa, itu sebabnya maka atas Anugerah Tuhan saja kita dipelihara hingga hari ini, dengan demikian dalam perjalanan kehidupan kita mesti banyak baca Alkitab supaya dengar apa yang Tuhan bicara pada kita, selain itu kita mesti sering berdoa yaitu berbicara pada Tuhan, supaya minta perlindunganNya, dan ditambah kita mesti mempraktekkan ajaran Tuhan, supaya kita mengerjakan jalan keselamatan kita.

 

Saya yakin orang yang sudah diselamatkan Tuhan maka ia sudah pasti selamat, tetapi ingat kuncinya adalah waktu pertobatan itu ia harus sungguh-sungguh. Itu sebabnya perlu waspada, bahwa menjadi orang Kristen itu bukan jaminan keselamatan, hanya percaya pada Tuhan Yesus merupakan jaminan keselamatan. Selanjutnya, orang yang percaya pada Yesus itu harus pula yang sungguh-sungguh, bukan karena sekadar ikut-ikutan atau karena harus tunangan atau sekadar karena menikah.

 

Apakah orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan itu hidupnya bisa seenaknya berbuat salah atau dosa? Semua ajaran agama mengajarkan kita tidak boleh berbuat dosa, jadi bohong besar jikalau anda seakan-akan mendengar bahwa orang Kristen bisa seenaknya berbuat dosa jikalau sudah percaya Tuhan Yesus, yang penting sudah pegang kunci keselamatan. Orang Kristen mesti belajar mengendalikan diri, Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah
seperti kota yang roboh temboknya ( Amsal 25 : 28). Lalu bagaimana kebenarannya? Jika orang tersebut benar-benar sudah menyerahkan hidupnya pada Tuhan Yesus, saya yakin atas pertolongan Tuhan Yesus ia akan berusaha berbuat apa yang berkenan di hati Tuhan. Sebagai manusia kita bisa jatuh, tetapi ingat firman Tuhan berkata tidak akan tergeletak. Makanya sepanjang hidup ini kita mesti kerjakan keselamatan kita, hidup setia pada firman Tuhan dan kembali pada ajaran Alkitab.

 

Hidup ini adalah kesempatan, karena selama hanya kita masih hidup ini saja kesempatan kita untuk percaya dan menerima Yesus sebagai jalan keselamatan ini. Jikalau kita sudah meninggal, waktunmya sudah tidak ada lagi, itu sebabnya selama kita masih diberi kehidupan ambillah kesempatan untuk menerima Dia (Yesus ) sebagai juru selamat kita. Kita tidak dapat memprediksi berapa lama kesempatan kita hidup di dunia ini. Orang yang sedang enak-enaknya bekerja tiba-tiba meledak pabriknya seperti kebakaran pabrik mercon beberapa waktu lalu. Orang yang sedang senang-senang hendak menikmati liburan, bisa saja pesawatnya lepas landas namun tidak kembali lagi seperti yang dialami pesawat Malasia Airlines tahun lalu, dan jatuhnya pesawat Air Asia di tahun yang sama.

 

Jadi karena hidup ini adalah kesempatan, maka jangan kita pergunakan hidup ini untuk menyusahkan orang lain, tetapi pergunakanlah untuk memuliakan Tuhan, melayani dan menjadi berkat bagi orang lain.

 

https://www.youtube.com/watch?v=JgDllPCIPEU   [bonus lagu]

 

500th Reformasi

San Francisco, Awal Nopember 2017

Saumiman Saud

Posted in Uncategorized | Leave a comment