SAHABAT MENULIS

9 Kesalahan Fatal Ahok Terungkap?

26 Agustus 2015 09:29:29 Dibaca : 176,672
9 Kesalahan Fatal Ahok Terungkap?

Saya yakin kita semua pernah dengar nama orang ini, namanya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), mungkin anda ada yang kenal dekat dengan beliau itu sebabnya tulisan ini walaupun pendek dan sederhana, diharapkan anda mengerti dengan baik, dan jika ada waktu ceritakanlah pada beliau. Syukur-syukur jika Ahok membacanya, tapi penulis ngak yakin deh, beliau itu sangat sibuk sekali; lagi pula tulisan ini mengungkap kesalahannya, ngapain dibaca, salah-salah penulis yang kena semprot.

Sejak awal Ahok menduduki jabatan wakil Gubernur telah terjadi beberapa gebrakan yang memang tampilnya beda dengan pejabat yang sebelumnya, karena Ahok memang memiliki integritas yang berbeda. Mungkin pejabat masa lalu selalu mendapat pelajaran turun-temurun yang disebut dengan istilah Asal Bapa Senang, atau juga menganut paham Nepotisme. Korupsi, dan Kolusi. Gebrakan Ahok sempat membuat masyarakat kaget tercengang dan ikut tegang. Bayangkan saja banyak kejadian-kejadian yang cukup dahsyat terjadi.

Berikut ini 9 kesalahan Fatal Ahok yang terungkap dari awal dia hendak dipilih, kemudian menjabat Wakil Gubernur DKI hingga hari ini menjadi Gubernur DKI. Penulis mohon maaf kepada satu juta orang Pemegang KTP Jakarta (Teman Ahok) yang setia mendukung Ahok, karena dengan terpaksa mengungkapkan kesalahannya.

  1. Ahok itu pekerja keras ,penuh disiplin, tegas dan anti korupsi; seluruh gaji dan pendapatannya ia buka dan perlihatkan secara umum kepada masyarakat di websitenya, tidak ada rahasianya. Nah inilah salah satu kesalahan Ahok yang membuat para pejabat lainnya gentar, mestinya Ahok santai-santai saja, biarkan korupsi berjalan seperti biasanya, toh ia malah bakal aman-aman saja.
  2. Proses rapatnya di upload di Youtube, jadi masyarakat banyak dapat menyaksikan bagaimana cara kerjanya, hal ini sangat aneh, tidak biasa bagi orang Indonesia. Biasanya kalau rapat suasanya ngantuk, itu sebabnya ada anggota DPR saking bosan di dalam rapat maka ia nyambi nonton video ngak karuan, yang lain malah tidur ngorok di ruang sidang. Kadang Ahok harus marah-marah karena ada yang tidak beres dan masih ada anak buahnya yang ngeyel, nah inilah kesalahan Ahok; mestinya ia ngak perlu marah biarkan saja anak buahnya ngeyel, toh Ahok ngak rugi apa-apa. Herannya adalah semakin kuat suara Ahok marah di video itu, maka semakin banyak rating penontonnya, video Ahok telah mengalahkan film telenovela.
  3. Karena begitu Ahok memperhatikan kaum bawah, maka para buruh merasa ada yang bela mereka, itu sebabnya mereka mengadakan unjuk rasa minta kenaikan gaji. Para buruh hadir dengan wajah serperti marah saja, dan Ahok keluar dari Balai kota bertemu dengan mereka. Inilah kesalahan Ahok juga, mestinya dia seperti pejabat dulu aja, biarin para buruh itu demo, dia tinggal pulang ke rumah, ntar jikalau demonya sudah capek mereka juga pulang ke rumah masing-masing.
  4. Ketegasan Ahok membuat sebagian orang marah, apalagi Ahok itu matanya sipit, mereka tidak mau posisi Ahok lebih tinggi dari mereka. inilah letak kesalahan Ahok kenapa matanya koq sipit, kalau dulu matanya melotot kan bagus, orang-orang menjadi takut melihat dia Nah inilah letak kesalahan Ahok di posisi matanya.
  5. Keberhasilan Ahok menertibkan para preman Tanah Abang dan para PKL di sana juga merupakan kesalahan Ahok, karena berakibat seorang anggota wakil rakyat merasa zona aman terganggu, mulai saat itulah terjadi semacam perselisihan dengan Ahok. Namun akibat kesalahan Ahok ini menuang keberuntungan dan rejeki banyak orang, dari mulai kaum pengamat, kaum politik, kaum sejarahwan, angota DPRD ikut-ikutan masuk TV komentar sana-sini dalam berbagai talk show; lumayankan Ahok membawa Hokky, boleh isi dompet yang diperoleh dari TV. Padahal acara ini hanya merupakan acara yang meramai-ramaikna  Tv tersebut, kejar rating penonton, tidak ada solusi yang membantu.
  6. Keberanian Ahok menutup Diskotik terbesar di Jakarta juga merupakan kesalahannya yang lainnya, sehingga ada banyak orang menjadi tidak senang padanya. Jikalau Ahok mau aman, maka ia tidak perlu melakukan itu, lebih baik ia diam-diam saja, semua pengunjung diskotik cukup senang, semua pihak senang.
  7. Penggusuran terhadap rumah-rumah yang dibangun di atas tanah pemerintah dan di bantaran waduk pluit, serta memindahkan mereka ke rumah susun dengan segala fasilitas yang diberikan secara gratis merupakan kesalahan Ahok juga. Karena pada jaman-jaman dulu , mereka yang digusur dibiarkan saja cari rumah sendiri, jikalau ngak dapat rumah malah bisa tinggal di bawah kolong jembatan.
  8. Baru-baru ini Ahok bersalah karena Ahok memindahkan mereka yang tinggal di Kampung Pulo masuk ke Apartement baru. Rumah-rumah Kampung Pulo itu adalah rumah yang dibangun di atas sungai, sehingga jikalau banjir maka mereka sebagai langganannya. Ahok bersalah karena menyelamatkan mereka dan pindahkan mereka ke rumah susun baru dengan segala fasilitas yang disediakan. Kalau Ahok mau santai, biarkan saja mereka kebanjiran lagi, toh dengan demikian tidak menyinggung perasaan seorang muda yang waktu SMA jurusan IPS dan ngakunya banyak baca buku sejarah tetapi tidak tahu sejarah.
  9. Kesalahan Ahok yang paling besar adalah mengungkapkan dan menyelamatkan dana UPS yang harganya 12 trilyun lebih, nolnya ada berapa ya? Padahal kalau Ahok mau biarkan dengan tutup sebelah mata bisa saja, toh dia juga aman, teman-teman yang mau beli UPS juga tidak merasa dihalang-halangi.

Walaupun kesalahan Ahok di atas cukup fatal, namun herannya kepopuleran Ahok bukan bertambah luntur, malah bertambah dahsyat seperti Guntur. Orang yang berani tampil beda ini rupanya menganut konsep hidup bersih, transparan, jujur dan bertanggung-jawab. Memang ada salah satu media TV Swasta yang memliki slogan “Memang Beda” suka menyiarkan berita-berita Ahok yang dibedakan dan diplintir dari fakta aslinya. Namun sekali lagi, Emas itu, dibakar habis-habisan ia tetap adalah Emas, Kebenaran itu diobok-obok samapai jungkir balik tetaplah Kebenaran, kejahatan seperti bangkai, disimpan sampai bagaimanapun suatu hari pasti terungkap baunya.

Ahok pernah dituduh “Gila”, itu sebabnya maka logikanya cara kerja orang “Gila” memang unik. Dalam berbagai wawancara di TV , Ahok selalu bilang setiap pagi dia harus makan “Pil” obat anti…. ngak tahu anti apa, mungkin supaya untuk “keseimbangan”. Jadi dengan makan obat itu maka pekerjaannya akan normal sedikit. Sudah banyak hal yang telah dikerjakan Ahok, tetapi perjuangan Ahok masih belum selesai, dia ingin membangun kota Jakarta itu bukan hanya dari sudut gedung-gedungnya saja, tetapi ia juga mau membangun dari segi orang-orangnya, membangun Jakarta seutuhnya tanpa menghilangkan keaslian Jakarta. Jadi saat ini ia sedang meletakkan dasar fondasi yang kuat dalam membentuk karakter orang Jakarta. Bila semua ini berhasil ditanamkan, maka penulis begitu yakin siapapun nantinya yang memimpin Jakarta mereka tidak susah lagi.

Mengatur kota Jakarta tidak segampang main catur, kudanya pelan-pelan jalan dan santai, mau perang juga dipikirkan berulang-ulang, karena sebagian orang-orangnya tidak mau diatur. Mungkin mirip permainan Ular Tangga, sebentar posisi naik-naik tinggi-tinggi sekali, maka jika tidak hati-hati bisa jatuh dan jatuh ke paling bawah karena banyak “musuh” yang selalu mengintai.

Ahok bisa kuat begini karena ngakunya setiap pagi ia makan obat, semacam doping gitu kali. Nah. inilah kelebihan pemimpin yang satu ini dibandingkan dengan pemimpin di daerah yang lain. Orang Jakarta itu tidak harus selalu berontak pada Ahok, jika ada hal yang baik darinya apa salahnya dengan rendah hati menerimanya, mari belajar dan ikut bangun bersama kota Jakarta. Toh Ahok memimpin Jakarta ada limit waktunya, entah 5 tahun atau paling lama 10 tahun.

Jikalau anda memang mampu dan merasa beliau itu banyak “kesalahan”, coba saja ditahun-tahun mendatang (2017) anda ngelamar saja masuk kancah PILKADA dan calonkan diri menjadi Gubernur DKI menggantikan beliau. Mungkin program anda lebih mantap, siapa tahu itu, dengan demikian Jakarta menjadi lebih hebat lagi. Tetapi ingat , jika anda memang tidak mampu dan ternyata anda tidak sanggup seperti dan melebihi dia, maka anda harus fair dan merelakan beliau menyelesaikan segala tugas-tugasnya menjadi pemimpin terlebih dahulu. Penulis begitu yakin sekali ” jikalau hari ini penduduk Jakarta menolak dia, maka seluruh penduduk Indonesia yang akan merebut dia”.

Akhir Agustus 2015, Saumiman Saud

www.cebcindonesia.wordpress.com

Email : saumiman.saud@cebc.net

https://www.facebook.com/saumiman.saud.7

============================================================

TUJUH MITOS TENTANG SUKSES

Re. Eddy Fances*)

Manusia normal yang hidup di dunia ini pastilah ingin hidupnya sukses. Namun secara faktual ada berapa orang yang sungguh sudah sukses? Sementara itu, ada sebagian manusia di dunia ini menganggap diri mereka sudah mencapai kesuksesan itu, tetapi apakah mereka capai sungguh adalah kesuksesan yang sejati? Ataukah hanya kesuksesan semu? Bagaimana kita bisa menilai dan mengukur sebuah kesuksesan yang sejati? Pertanyaan-pertanyaan diatas mendorong kita untuk menemukan definisi yang sebenarnya tentang arti sukses yang sejati, dan kriteria yang sebenarnya dalam mengukur kesuksesan yang sejati.

Sebelum memaparkan apa definisi tentang sukses yang sejati, yang akan dijabarkan dalam pasal-pasal selanjutnya dalam buku ini, saya ingin mengajak Anda melihat apa yang bukan disebut sukses yang sejati itu.

1. Sukses itu Bukan Soal Kaya Raya:

Siapa yang tidak ingin menjadi seorang yang kaya raya? Bukanlah orang yang banyak harta benda dan banyak uang adalah orang yang sukses? Jika Anda menganggap sukses adalah bila Anda berhasil menjadi orang yang kaya raya dalam harta dan uang, Anda terlah terjebak dalam mitos (dusta) yang akan membahayakan hidup Anda.

Memang uang itu penting, namun bukanlah hal yang terpenting dalam dunia ini. Coba perhatikan fakta dibawah ini, bila Anda menganggap uang adalah hal yang paling penting di dunia ini.

– Uang bisa membeli makanan mahal dan enak, tetapi tidak bisa membeli selera makan.
– Uang bisa membeli ranjang yang berlapis emas, tetapi tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.
– Uang bisa membeli ‘body-guard’ yang gagah dan kuat, tetapi tidak bisa membeli perasaan aman dan damai di hati.
– Uang bisa membeli dokter yang genius, tetapi tidak bisa membeli kesehatan tubuh yang prima.
– Uang bisa membeli obat yang mujarab, tetapi tidak bisa membeli kesembuhan utuh dari sakit penyakit
– Uang bisa membeli buku yang berharga, tetapi tidak bisa membeli hikmat/ bijaksana.
– Uang bisa membeli rumah atau istana yang mewah, tetapi tidak bisa membeli rumah tangga yang bahagia.
– Uang bisa membeli sejumlah besar orang di sekeliling Anda, tetapi tidak bisa membeli sahabat yang sejati.
– Uang bisa membeli hakim yang membela Anda, tetapi tidak membeli kebenaran yang memerdekakan Anda.
– Uang bisa membeli kedudukan/ kuasa sementara, tetapi tidak bisa membeli status/ kehormatan yang berharga di hadapan manusia dan Allah.
– Uang bisa membeli sex, tetapi tidak bisa membeli cinta yang sejati.
– Uang bisa membeli hiburan dan kenikmatan dunia, tetapi tidak bisa membeli sukacita dan kebahagiaan sejati.

Oh, ternyata ada begitu banyak hal yang memberikan kebahagiaan hakiki yang diidam-idamkan manusia, yang tidak bisa dibeli dengan uang. Raja Salomo yang terkenal kaya raya menuliskan, “Siapa yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa yang mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:9).Rasul Paulus mengingatkan Timotius yang masih muda agar dia tidak terjebak dalam mitos ini. Kekayaan jelas bukanlah sukses yang sejati. Dia menuliskan dalam suratnya, “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau, hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu!” (I Timotius 6:10-11a).

2. Sukses itu Bukan Soal Kuasa:

Sebagian orang menganggap bahwa sukses itu adalah jika memiliki kedudukan yang tinggi atau kuasa yang besar untuk ‘memerintah’ dengan sekehendak hatinya. Jelas ini adalah mitos (dusta) juga yang telah mengelabui banyak pemimpin yang berkuasa besar atau diktator yang memimpin rakyatnya dengan tangan besi dan sekehendak nafsu buasnya.

Mussolini yang memiliki kuasa besar dan diktator, akhirnya harus mati dengan tragis, digantung terbalik dan mayatnya dijadikan bulan-bulanan dan ejekan di seluruh Itali. Mussolini berkuasa besar, tetapi dia tidak sukses. Hitler yang berkuasa mutlak di Jerman, yang dengan sangat sadis membantai enam juta Yahudi dalam kamar gas beracun, akhirnya harus bunuh diri bersama sekelompok pemimpin Nazi yang kejam dan fanatik dalam bunker tempat persembunyiannya. Hitler menembak hancur kepalanya sendiri dan memohon agar mayatnya dibakar saja supaya tidak dijadikan ejekan dan bulan-bulanan. Hitler berkuasa besar namun dia tidak sukses. Saddam Hussein yang berkuasa penuh dan multak di Irak juga akhirnya harus menjalani hukuman gantung karena kekejamannya terhadap rakyatnya sendiri. Saddam Hussein memiliki kuasa yang absolute, tetapi dia tidak sukses.

Saya yakin Anda dapat memperpanjang daftar dari contoh orang-orang berkuasa besar yang mutlak, yang dianggap sukses, namun sesungguhnya gagal besar. Sukses yang sejati bkanlah soal kuasa yang besar atau absolut. Alkitab memberitahukan kita bahwa kuasa yang sejati datangnya dari Allah (Mazmur 62:12), Dan Dialah yang empunya segala kemuliaan dan kuasa dari sekarang sampai selama-lamanya (I Petrus 4:11; 5:11). Barang siapa yang dengan hanya mendapatkan titipan kuasa yang sementara ini, namun yang salah menggunakannnya – hanya untuk menyombongkan dan meninggikan dirinya sendiri, dia akan diturunkan dan dijatuhkan. Tuhan memperingatkan, “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:12). Raja Salomo yang berkuasa besar pun mengingatkan mereka yang berkuasa agar tidak jatuh dalam keangkuhan, karena sesungguhnya Allah membenci orang yang tinggi hati. Dia menuliskan, “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan, dan sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman. Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahukui kejatuhan (kegagalan). Tetapi kerendahan hati mendahukui kehormatan.” (Amsal 16:5,18: 18:12a).

3. Sukses itu Bukan Soal Kepuasan Seksual:

Sebagian orang di dunia ini menggangap bahwa sukses itu bila seseorang bisa mencapai kepuasannya secara seksual. Mereka berpandangan bahwa berhubungan sex adalah aktivitas phisikal manusia yang paling utama untuk menyuguhkan kebahagiaan bathiniah. Tidak heran bahwa orang yang sedemikian akan menyetujui dan mempraktikkan pernikahan berganda (poligami). Bila tidak pun, kemungkinan besar dia akan mencari keppuasan nafsu seksualnya diluar pernikahannya yang resmi.

Sesungguhnya pemikiran ini adalah sebuah mitos lain dari sukses yang sejati. Keberhasilan seseorang jelas tidak ditentukan oleh berapa banyak pasangan seksualnya, atau berapa banyak hubungan sex yang sudah dilakukan dengan orang lain – apakah itu hubungan yang hetero-seksual, homoseksual, atau kedua-duanya. Dari fakta sehari-hari dapat kita lihat ada begitu banyak selebritis – bintang film, bintang nyanyi, atlit olah raga, politik, sosial, agama, atau bintang lainnya – yang terjatuh dalam hubungan ‘free-sex’ atau yang sudah kawin cerai berulang-ulang; namun tidak mengalami kebahagiaan atau kesuksesan yang sejati. Sebaliknya, kekecewaan besar yang dihasilkan dan tidak jarang berakhir dengan kecanduan obat bius dan bunuh diri.

Selain itu ada banyak contoh tentang mereka yang menganut poligami, baik secara hetero-seksual atau homoseksual yang keluarga berantakan, penuh perselisihan, dan dendam kesumat yang menghasilkan berbagai tindakan kekerasan, perkelahian, penuntutan hukum, bahkan banyak yang berakhir dengan pemubuhan atau tindakan kriminal lainnya yang amat sadis dan tidak manusiawi. Belum lagi, soal sakit penyakit kelamin yang najis dan mematikan yang menular dan membawa berbagai efek negatif lainnya bagi orang lain. Semua ini membuktikan bahwa kepuasan nafsu seksual yang dicari-cari manusia tidak membawa sukses sejati. Sebaliknya kegagalan yang mengecewakan dan menyedihkan.

Alkitab menceritkan tokoh-tokoh yang gagal dalam kehidupan seksual mereka. Samson yang gagah perkasa harus mengalami kegagalan dan kebutaan matanya akibat tidak bisa mengontrol nafsu seksualnya kepada Delilah yang cantik, tetapi jahat. Raja Daud yang kuat juga terjatuh dan gagal karena tergoda dan berjinah dengan Betsyeba yang cantik. Akhirnya Daud berdosa dengan ‘membunuh’ suami Betsyeba, Uria, dan dia menyesal atas perbuatannya. Daud tidak menemukan kesuksesan dalam kepuasan hubungan seksualnya. Alkitab mengingatkan kita, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4). Allah dengan tegas memberikan perintah, “Jangan berzinah” (Keluaran 20:14) dalam Sepuluh Hukum TauratNya. “Siapa yang melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan.” (Amsal 6:32-33).

Alkitab juga mengingatkan kita agar menjauhkan diri dari orang-orang (wanita atau laki-laki) yang tidak puas dalam melampiaskan nafsu seksualnya, agar tidak terjebak dan terjatuh dalam kegagalan yang membawa maut. “Karena bibir perempuan jalang [atau laki-laki hidung belang] menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin daripada minyak, tetapi kemudian dia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. Kakinya turun menuju maut, dan langkahnya menuju dunia orang mati.” (Amsal 5:3-5). Sekali lagi, ditegaskan bahwa sukses itu bukan soal kepuasan seksual. Jangan sampai Anda percaya pada mitos ini dan terjebak dalam kehidupan nafsu seksual yang liar, najis, dan mematikan.

4. Sukses itu Bukan Soal Kesehatan Phisik:

Jelas sekali bahwa kesehatan phisik/ jasmani itu amat penting dan diidam-idamkan oleh setiap manusia. Secara nomal, pastilah tidak ada manusia yang ingin sakit, bukan? Juga, kesehatan yang baik dan prima dapat membuat seseorang bekerja dan melakukan aktivitasnya dengan lebih baik. Namun, benarkah bahwa kesuksesan adalah kesehatan phisik/ jasmani yang prima? Sesungguhnya, ini juga adalah sebuah mitos yang diciptakan manusia. Orang Tionghoa mengatakan bahwa ‘kesehatan itu nomor satu’. Benarkah demikian? Kalau benar ksehatan itu nomor satu, lalu nomor dua apa? Nomor tiga? Nomor empat? Dan seterusnya dan seterusnya? Keluarga nomor berapa? Kedamaian jiwa nomor berapa? Tuhan nomor berapa? Karier? Studi? Sahabat? Keselamatan? Rasa aman? Mencintai dan dicintai? Pelayanan? Dan masih banyak aspek lainnya dalam hidup ini?

Mitos ini dapat dibuktikan dengan adanya cukup banyak orang yang kesehatannya cukup baik, phisiknya cukup kuat, namun tidak dapat disebut sukses. Mengapa? Karena berharganya sebuah hidup tidak diukur dari kuat atau sehatnya seseorang atau berapa panjang usia yang bisa dicapainya di dunia ini. Ada cukup banyak orang yang sehat dan kuat phisiknya, namun hidup keluarganya berantakan, atau hidup pribadinya menyedihkan. Lihat saja contoh selebritis atlit yang phisiknya kuat dan sehat, namun kehidupan seksualnya dan keluarganya yang tidak karuan. Selain itu, secara normal pastilah semua manusia di dunia ini akan mengalami kemerosotan phisik, bukan? Mana ada manusia yang tubuhnya semakin sehat dan semakin kuat? Bukankah waktu yang terus berjalan ini akan menggerogoti phisik manusia? Semakin berumur seseorang akan semakin lemah pula phisiknya. Ini hukum alam yang tidak bisa dilawan manusia.

Di pihak lain, dalam dunia ini kita bisa menyaksikan ada cukup banyak ma usia yang tubuhnya lemah atau cacat, namun justru mereka sanggup menciptakan dampak yang besar. Hidup mereka sungguh jauh lebih unggul dan efektif dibandingkan dengan banyak orang yang sehat dan lengkap phisiknya. Sebagai contoh misalnya Hellen Keller, penulis yang terkenal. Dia lahir buta dan tuli, namun berhasil menyelsaikan universitasnya dengan predikat ‘honor’ (terhormat/ unggul). Beethoven, pengarang lagu yang genius. Dia memiliki telinga yang tuli. Fanny J. Crosby, pengarang ribuan lagu rohani yang menjadi berkat bagi seluruh dunia di zamannya hingga kini. Dia lahir dengan mata yang buta. Joni Earekson Tada, pelukis, pengarang, penceramah, dan pemimpin organisasi anak cacat di AS. Dia terkena kecelakaan yang melumpuhkan seluruh tubuhnya mulai dari leher ke kaki. Namun dengan mulutnya, dia sanggup menghasilkan lukisan dan buku yang menjadi berkat bagi banyak orang. Daftar ini tentunya bisa Anda perpanjang, bukan?

Sekali lagi, memang kesehatan phisik penting, namun bukan terpenting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Rasul Paulus yang phisiknya semakin lemah, terus berjuang keras agar hidupnya menjadi berguna bagi banyak orang, dan dia mengerjakan hal-hal yang mendatangkan nilai kekekalan demi Kerajaan Allah yang mendatangkan kekuatan dan pembaharuan dalam manusia internalnya. Dia menuliskan, “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah [phisikal] kami semakin merosot, namun manusia bathiniah [jiwa/ roh] kami diperbaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.” (II Korintus 4:16-17). Jelas bahwa Tuhan Allah mengajarkan kita bahwa kesehatan dan pembaharuan manusia bathiniah yang menghasilkan nilai-nilai kekekalan jauh lebih penting daripada tubuh phisikal yang semakin merosot dan melemah. Hidup dan pelayanan yang menjadi berkat bagi banyak orang jauh lebih berharga daripada phisik yang sehat dan kuat namun hanya hidup untuk diri sendiri dan tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai kekal. Sukses yang sejati tidak dinilai hanya dari sudut phisikal saja, tetapi yang amat penting juga dari sudut spiritual.

5. Sukses itu Bukan Soal Tercapainya Cita-Cita:

Tidak dapat disangkal bahwa hampir setiap manusia di dunia ini memiliki cita-cita yang diidam-idamkan. Entahkah cita-cita itu berhubungan dengan profesi/ karier (‘menjadi apa’), misalnya: dokter, insinyur, usahawan, bintang film, pilot, jenderal, presiden, dan lain sebagainya. Tidak heran, orang tua sering bertanya kepada anaknya, “Nanti kalau besar mau jadi apa?” Sebuah cita-cita juga bisa berhubungan dengan kepemilikan (‘mendapatkan apa’), misalnya: ingin mempunyai rumah mewah, mobil terbaru, pakaian termode, istri yang cantik, suami yang gagah dan kaya, gelar yang banyak, pangkat yang tinggi, dan lain sebagainya. Selain itu cita-cita juga bisa berhubungan dengan karya (‘melakukan sesuatu’), misalnya: cita-cita untuk menulis buku, cita-cita untuk menolong fakir miskin, membangun rumah yatim piatu, mau berkeliling dunia, dan lain sebagainya.

Cita-cita itu yang diidam-idamkan itu bila dirancang sesuai dengan porsi, waktu, dan sifatnya yang baik, tentu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya, bila tidak hati-hati, sebuah cita-cita bisa menjadi sesuatu yang negatif sifatnya. Bila cita-cita itu terlalu muluk-muluk, seringkali hanya menjadi sebuah impian kosong atau fantasi yang sia-sia. Tentunya kita bisa melihat conroh di sekitar kita. Ada sebagian manusia yang hanya hidup dalam dunia impian dan fantasi. Mereka hanya pintar bersilat lidah dan membusungkan dada membanggakan cita-citanya dengan lagu lama” Nanti suatu saat saya akan mendapatkan…” atau “Nanti kapan-kapan saya melakukan …” atau “Nanti besok-besok saya akan menjadi …” Tetapi faktanya, tidak ada tindakan nyata yang dirancang dengan baik dan progresif. Hanya kata-kata tanpa usaha yang konkret. Di pihak lain, sebuah cita-cita juga bisa menjadikan hidup seseorang menjadi statis, mandeg, dan pasif; bila cita-cita itu dilihat sebagai ‘tujuan akhir’ dari perjalanan hidup ini. Ketika cita-cita itu tercapai, hilanglah dinamika, semangat, dan produktivitas hidupnya. Sekan-akan dia berkata: “Aku sudah tiba pada tujuan akhir hidup ini” atau “Aku sudah sukses.”

Sesungguhnya sukses sejati itu bukanlah sebuah cita-cita. Sukses bukanlah suatu ‘tujuan akhir’ melainkan suatu proses perjalanan panjang dalam hidup dan pelayanan dalam dunia ini. Cita-cita hanyalah sebuah titik perhentian dalam suatu perjalanan yang panjang itu. Yang penting, bukanlah titik akhir yang dicapai, melainkan proses dalam perjalanan panjang tersebut. Rasul Paulus menjelaskan kepada jemaat Korintus soal seluruh aktivitas mereka sehari-hari demikian, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (I Korintus 10:31). Ada satu tujuan utama dalam seluruh proses perjalanan hidup ini yaitu untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah bukan menjadi ‘tujuan akhir’ melainkan tujuan utama setiap saat, dalam setiap aktivitas dan setiap keadaan dalam hidup ini. Selanjutnya Paulus menjelaskan kepada jemaat Kolose, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya” (Kolose 3:23). Setiap orang yang mengalami kasih karunia keselamatan dalam Kristus adalah hamba Kristus yang akan mempertanggung jawabkan seluruh aspek hidupnya. Hidup dan pelayanannya yang memuliakan Allah, yang sudah dijalankan secara maksimal dan sepenuh hati bagiNya, akan diperhitungkan di akhirat nanti.

6. Sukses itu Bukan Soal Bebas Dari Masalah:

Sebagian orang di dunia ini menganggap sukses itu bila dalam hidupnya tidak ada masalah sama sekali. Semua aspek hidup ini berjalan baik, lancar, mulus, tanpa ada kesulitan dan hambatan yang berarti. Jelas ini juga adalah mitos. Mengapa? Karena tiada seorang pun manusia di dunia ini yang hidup tanpa masalah dan persoalan. Kata orang hidup tanpa masalah itu hanya ada di ‘Kalibata’ (kuburan). Artinya hanya orang yang sudah mati tidak akan menghadapi masalah. Faktanya, pernyataan ini pun tidak tepat. Kita bisa menyaksikan bahwa orang yang sudah meninggal dan sudah dikuburkkan pun ternyata tidak tenang ketika kuburannya harus terkena banjir atau terkena gusur karena proyek baru. Selain itu anggota keluarganya yang harus membayar iuran kuburannya secara rutin. Bila tidak, pastilah akan dibongkar. Lalu, di akhirat juga ternyata tidak bebas masalah. Karena setiap manusia harus mempertanggung jawabkan hidup dan pelayanannya selama di dunia ini.Alkitab jelas mengatakan, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibrani 9:27).

Dunia yang sudah tercemar oleh dosa manusia mengakibatkan berbagai masalah yang terus berkembang semakin banyak, semakin cepat, dan semakin mengerikan. Ini fakta hidup yang tidak bisa dihindari. Apakah masalah itu berhubungan dengan lingkungan alam, sakit penyakit, peperangan, kejahatan, hubungan manusia yang retak dan rusak, dan lain sebagainya. Setiap hari kita bisa menyaksikan adanya ketidak-adilan dalam segala lapisan masyarakat dan segala aspek hidup, kejahatan dalam segala bentuk – mulai dari pencurian, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, perselingkuhan, perjinahan, dan berbagai penyimpangan dan keabnormalan lainnya. Selain itu tentunya adalah masalah lain misalnya soal sandang pangan, pekerjaan, studi, soal finansial, soal lingkungan, tempat tinggal, kejiwaan, agama, politik, soal hubungan manusia – entah itu hubungan suami istri, hubungan orang tua anak, hubungan saudara, ‘boss’ dan karyawan, karyawan dan karywan, hubungan persahabatan, dan hubungan-hubungan lainnya, dan masalah-masalah lainnya yang seringkali muncul secara tak terduga dan tak diundang. Setiap manusia tanpa kecuali bisa terkena imbas atau menjadi korban dari masalah-masalah diatas. Dosa adalah adalah fakta nyata dalam hidup ini. Orang yang sukses masalahnya bukanlah soal bebas dari berbagai masalah hidup ini. Biasanya orang yang takut terhadap masalah dan ingin bebas dari masalah mencoba tiga hal: Tidak melakukan segala sesuatu (berdiam diri, malas, tidak mau tahu), tidak berbicara sesuatu (membisu, cuek, dan pura-pura bodoh), dan tidak menjadi segala sesuatu (pasif, statis, dan apatis).

Sesungguhnya sukses adalah soal soal bagaimana sikap, karakter, kekuatan, dan langkah-langkah bijak yang diambil dalam menghadapai berbagai masalah yang ada. Iman yang kuat dan teguh dalam Tuhan akan menolong seseorang bertahan dalam segala situasi dan berani menghadapi berbagai masalah yang ada. Orang yang beriman tidak akan melarikan diri dari masalah, melainkan menghadapinya dengan berani dan sigap, sambil memohon hikmat dari Tuhan dan berharap kepada pertolonganNya yang ajaib. Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Filipi, tatkala dia ada dalam penjara,“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7). Orang yang beriman dan berharap kepada Tuhan akan menemukan kekuatan yang khusus untuk menghadapi berbagai masalah di dunia ini dengan kuasa ilahi yang menolongnya melihat jalan keluar yang dibukakan Allah baginya. Perjalanan dalam menghadapi setiap masalah di dunia ini bersama-sama dengan Allah, sebenarnya adalah sebuah perjalanan sukses yang sejati.

7. Sukses itu Bukan Soal Menjadi Nomor Satu:

Ada sebagian orang lain mendefinisikan sukses sebagai pemenang nomor satu. Tidak heran slogan mereka adalah: “Aku harus menjadi nomor satu!” Falsafah ini akan menghasilkan karakter yang egois, misalnya: ‘mau menang sendiri’, ‘tidak mau mengalah’ karena mengalah dianggap kalah dan gagal. Atau menghasilkan keinginan yang keras untuk diikuti dan didengar (dalam dunia politis menghasilkan diktator yang kejam dan sadis). Kemungkinan besar sejak kecil memang mengalami salah didikan orang tua. Setiap kali ia memakai senjata ‘menangis’ sang orang tua akan mengalah dan memenuhi keinginannya. Setelah besar senjata ‘menangis’ digantikan dengan ‘mengancam’. Setelah dewasa ia akan memakai senjata ‘memaksakan kehendak’ untuk mencapai keinginannya, yaitu menjadi nomor satu. Bagi orang sedemikian menjadi nomor satu berarti orang lain harus menjadi nomor dua, tiga dan seterusnya. Berarti dalam hidup ini harus melebihi orang lain dalam segala hal. Di satu pihak, nampaknya ada nilai positifnya, yaitu memberikan motivasi, semangat dan usaha yang keras untuk mencapai yang lebih baik bahkan melabihi orang lain. Dengan kata lain, tidak cepat puas diri, melainkan terus berjuang untuk maju dan lebih maju; sukses dan lebih sukses. Namun, di pihak lain, ada akibat negatif yang lebih merugikan. Manusia diajak untuk terus berkompetisi agar menaklukkan orang lain. Demi mencapai nomor satu seringkali orang lupa diri, tidak peduli dengan orang lain, dan tidak sungkan-sungkan untuk berbuat kecurangan dan kejahatan agar tujuannya mendapatkan nomor satu bisa tercapai.

Sesungguhnya menjadi nomor satu bukanlah sukses yan sejati. Ini mitos yang akan menciptakan manusia egois yang serakah, keras, dingin/ kaku, tidak toleran, diskriminan, bahkan kejam, sadis, dan tidak manusiawi. Orang yang sedemikian tidak dapat mengontrol dirinya baik secara emosinal, rasional, dan phisikal. Di pihak lain, ia akan menjadi orang yang amat kesepian dalam hidup ini. Karena tidak ada orang lain yang dihargainya, dipercayainya, dan bisa dijadikannya sebagai sahabatnya.

Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mengenal Kristus dan memiliki hubungan yang akrab denganNya adalah orang yang melebihi daripada seorang pemenang. “Tetapi dalam semuanya itu, kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita.” (Roma 8:37). Istilah ‘dalam semuanya itu’ menunjuk kepada semua permasalahan yang dapat membuat hidup kita menderita dan gagal, misalnya: penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang, bahaya maut, atau penderitaan atau kesulitan lainnya, dalam dunia yang fana ini (bandingkan: ayat 35-36). Kata ‘kita’ menunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus seagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tuhan menjanjikan berkat sukses bagi orang-orang percaya bagaikan orang-orang yang lebih daripada pemenang. Apa maksudnya ‘lebih daripada pemenang?” Bukankah pemenang itu sama dengan nomor satu? Lalu, lebih dari nomor satu itu siapa? Mereka yang lebih daripada pemenang sesungguhnya adalah mereka yang mengalami kesuksesan sejati. Yaitu mereka yang menolong sesamanya untuk mencapai kemenangan. Mereka yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, bukan mau menang sendiri, bukan yang tidak peduli terhadap sesamanya. Sebaliknya, yang bersandar anugrah dan pertolongan Tuhan dan rela menjadi “alat” di tangan Tuhan demi menjadi berkat bagi sesamanya. Dengan menolong sesama mencapai kemenangan demi kemenangan sebenarnya sudah menunjukkan diri sebagai orang yang lebih daripada pemenang itu sendiri. Kita dapat menyaksikan bagaimana rasul Paulus memiliki falsafah dan menjalani falsafah hidup yang berpusat kepada Kristus, yang menghasilkan buah bagi banyak orang. Dia menuliskan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:21-22). Hidup yang bernilai dan merupakan sukses yang sejati adalah hidup yang memberi nilai hidup bagi sesamanya demi Kerajaan dan Kemuliaan Allah.

*) Penulis melayani di Los Angeles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s