ARTIKEL

Cek semua Artikel Natal Saumiman Saud, dan

‘Klik di sini

==============================================================

Artikel Rohani

MENYANGKAL DIRI DAN MEMIKUL SALIB

Saumiman Saud *)

                   Keputusan penting apa yang pernah anda ambil selama anda hidup sampai saat ini?  Mungkin anda mempunyai jawaban yang beragam satu dengan yang lain. Ada orang mengatakan keputusan penting yang pernah diambil antara lain; memilih sekolah atau Universitas, memilih temapat kerja, Menikah , meng–apply Green Card dan sebagainya. Di antara sederetan keputusan tersebut, manakah yang paling penting? Sekali lagi kita bakal mendapat jawaban yang satu dengan lainnya berbeda.

Saat ini kita akan coba melihat keputusan penting yang pernah diambil oleh murid-murid Yesus Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-muridNya . “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” Satu keputusan yang cukup berat tentunya, namun inilah konsekwensi bagi seorang pengikut Yesus.

Ada tiga hal yang cukup menarik yang akan kita lihat bersama :

1. Menyangkal Diri

2. Memikul Salib

3. Mengikut Yesus

Menyangkal Diri

               Apa yang dimaksud dengan menyangkal diri?  Menyangkal boleh diartikan dengan tidak mengindahkan, tidak respon. Walaupun murid-murid Yesus sudah cukup lama hidup bersama-sama dan pelayanan bersama, namun rupanya konsep mereka terhadap Yesus sang Mesias ini masih salah. Konsep pemikiran mereka seperti yang dituduhkan Yesus terhadap Petrus, mereka itu masih duniawi. Bagi Yesus apa yang dilakukan Petrus terhadap dirinya adalah merupakan  penghalang atau batu sandungan. Itu sebabnya pada ayat 24 Yesus dengan tegas sekali mengatakan “Setiap orang yang mau mengikut Aku ia harus menyangkal diri” “Setiap orang” di sini berarti siapapun juga, tidak ada kecuali atau yang mendapat dispensasi (prioritas). Ingat bahwa pada jaman itu mengikut Yesus berarti murid- murid Yesus harus mengiringnya menuju Yerusalem, namun pada saat ini tentu bukan lagi masalah Yerusalem.

Syarat seorang pengikut Yesus yakni harus “Menyangkal Diri”. Terjemahan lain untuk “menyangkal diri” merupakan kepentingannya sendiri (BIS) “atau” tidak lagi memikirkan kepentingannya sendiri. Tuhan Yesus tidak meminta kita hidup asketis akibat penyangkalan diri ini, misalnya tidak makan daging tertentu, menyiksa diri kita dan sebagainya. Menyangkal diri  boleh dikatakan seperti kita berani berkata tidak untuk “perbuatan tertentu” yang dulunya kita tidak dapat menolaknya, padahal situasi itu kita sangat sukai.

Ada seseorang memberikan penyataan demikian :

Manusia pertama     :  Tidak dapat berbuat dosa

Setelah Kejatuhan   : Tidak dapat tidak berbuat dosa

Jaman Anugerah    : Dapat tidak berbuat dosa

Hidup yang di dalam penyangkalan diri berarti hidup yang di dalamnya ada perubahan yang nyata. Mengingat kembali masa lalu kita, rasanya kita malu kalau saat ini kita boleh bersama dengan Tuhan. Namun orang yang menyangkal diri mengikut Tuhan ia harus tinggalkan mas lalunya. Benar dahulu hidup kita seperti seorang penjahat atau lebih kasar seperti “bajingan”. Tetapi tatkala Yesus mengatakan , Ayo ikut Aku? Artinya segala-galanya yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu yang buruk itu harus disingkirkan.

Memikul Salib

Dasar kata yang dipakai untuk kata “Memikul Salib” di sini dapat diterjemahkan dengan membawa atu mengangkat. Banyak terjemahan yang menerjemahkan dengan “Membawa “ dan “Mengangkat”  Mengapa dikatakan memikul salib? Tentu berbeda dengan jaman sekarang, salib dibuat seperti mainan, dipakai sebagai kalung, anting-anting dan yang kelewatan dipasang di pusarnya.

Sebenarnya salib itu adalah salah satu alat yang digunakan oleh orang Romawi untuk menjalankan hukuman mati terhadap seseorang yang berbuat kejahatan. Salib dianggap sebagai lat untuk mendatangkan kematian dengan cara yang pelan namun sangt menyakitkan. Orang Romawi biasanya menggunakan salib untuk menghukum mati budak atau orang Asing. Orang yang dijatuhi hukuman diharuskan memikul salib atau balok lintang ( atau balok mendatar) ke tempat eksekusi. Pada jaman Yeus, masyarakat sering melihat orang-orang yang disalib, sehingga dijadikan lambang kehidupan  orang percaya.

Mengikut Aku

Kata mengikut AKu ini di dalm bahasa Yunaninya dipakai kata apisw yang artinya di belakang (Matius 10 :38 ). Ternyata untuk mengikut Yesus ada terpasang dua syarat yang cukup berat. Tidak ada kesemptana untuk negosiasi atau KKN (sogok). Itu sebabnya walaupun pemuda yang dating itu adalah orang kaya, tetap saja pulang dengan tangan hampa. Karena bagi pemuda itu, tugas yang diberikan Tuhan Yesus itu sangat berat.

Mengikut Yeus di dini juga boleh diartikan sebagai  “Menjadi murid”, “Menjadi pengikut-Nya” atu “Mereka pergi bersamanya” Jadi bisa dibayangkan apa yang segera harus lakukan seorang pengikut Yeus :

–         Tinggalkan pekerjaannya

–         Tinggalkan orang tua

–         Tinggalkan sanak saudara

–         Tinggalkan rumah

–         Tinggalkan harta –kekayaan

–         Tinggalkan kawan-kawan

–         Tinggalkan pacar

–         Tinggalkan kampung halaman

–         Tinggalkan segala-galanya

Oh , tidak gampang bukan?

Apa yang dapat kita pelajari?

Seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Jadi, beranikah kita mengambil konsekwensi ini? Meninggalkan apa yang kita suka dan senangi. Orang yang suka berbohong, merokok diminta supaya segera meninggalkannya. Kemudian arahkan kehidupannya menjadi seorang yang patuh pada perintah Tuhan, rajin ke gereja, baca Alkitab setiap hari, berdoa dan melakukan firman Tuhan.

Billy Graham mengatakan :”Keselamatan itu gratis, tetapi untuk menjadi murid ada harga yang dituntut , yakni segala sesuatu yang anda miliki”

William Borden lulus SMA tahun 1904, maka sebagai hadiah kelulusannya, ayahnya mengirimnya berkeliling dunia dengan ditemani seorang pengantar. Bapak Borden, pendiri perusahaan susu borden itu memberi putranya sebuah Alkitab untuk dibaca selam perjalanan tersebut dengan harapan agar bisa menjadi sumber inspirasi dalam persiapannya memasuki perguruan tinggi. Selama perjalanan keliling dunia itu, William mendengar panggilan Allah agar dia meninggalkan karier bisnisnya yang menjanjikan sukses itu dan memberitakan Injil. Ia menulis lima kata pada halaman depan Alkitabnya.

–         TIDAK ADA YANG DAPAT MENGHALANGI-

William masuk Universitas Yale di maba ia sangat terpengaruh   oleh Samuel Zwemmer untuk memikirkan tentang orang-orang yang belum percaya Yesus. William merasa bahwa Allah memanggil dia untuk bekerja dianatara orang-orang itu di China . Ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia tidak akan kembali ke bisnis keluarga setelah menyelesaikan pendidikannya di Yale, sebaliknya ia akan mengabdikan hidupnya untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus. Ia menambahkan emapat kata  lagi di depan Alkitabnya  :

–         TIDAK ADA KATA MUNDUR –

Setelah menyelesaikan studinya di Universitas Yale dan  di Seminari, William tiba di Mesir untuk belajar bahasa Arab sebagai persiapan pelayanannya. Dalam waktu setahun setelah kedatangannya ia terkena radang selaput otak dan meninggal tidak lama setelah berumaur 26 tahun. Ibunya pergi ke Mesir untuk mengumpulkan barang-barang2 pribadinya, salah satu diantaranya ialah Alkitabnya. Dan ia melihat tiga kata tambahan tertulis di depan Alkitab itu yakni :

–         TIDAK ADA PENYESALAN –

Apa yang dibutuhkan oleh dunia saat ini adalah suatu generasi orang percaya yang mempunyai motto : “Tidak ada yang dapat menghalangi, tidak ada kata mundur dan tidak ada penyesalan”  Itu artinya , dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun kita tetap bersedia ikut Yesus. Sudah siapkah anda??

MIRACLE TO STRENGTHEN FAITH

Mark 2:1-12

 

            Children of God are often confused when it comes to miracles. Some think that nothing spectacular happened in their lives, so they have nothing to testify about the Lord. Only a few people have experienced ‘miracles’ and are thus able to testify that they have been helped by the Lord. This is not right, because the Bible never teaches that.

            Our daily life is a big miracle in itself, because our Lord’s work is apparent in our life personally. That is incredible. Today we can think, see, read, write, eat and do other things. That is all a miracle of God that works on us everyday.

            From our reading today, we can see the actual role of miracles in believers’ lives.

Do Christians have to experience miracles in order to look spectacular? Are Christians considered spiritual once they experience miracles? How important are miracles? Let’s see that within the context of Mark 2:1-12.

 1. 

  • MIRACLE IS NOT THE MAIN PURPOSE OF JESUS’ MINISTRY

 Note that in His ministry, Jesus never prioritized miracles. To Him, miracles are not

important; His teachings are more important. Jesus wanted His followers to understand that to be His disciple, it is not important to prioritize miracles. Instead, His followers must realize that they need the Person Jesus Christ, because He is our Savior.

Verse 1 says that many people went after Jesus, but their main goal was not to

watch miracles. What did they do? Mark 2:2 says: “So many gathered that there was no room left, not even outside the door, and he preached the word to them.” (NIV). So they were there to listen to Jesus’ words. I am very afraid that our misconception persists, making us think that miracle is some kind of entertainment. In Capernaum, Jesus did not perform miracles, but He taught His disciples. If in the end He healed someone, that is because of the power of His ministry.

 

  1. MIRACLE IS NOT THE MAIN REASON TO BELIEVE

 

When Jesus met that cripple, He words were: “Your sins are forgiven.” Jesus wanted

to teach many people that the most important thing in our life is forgiveness. What use is healing for the cripple if in the end he won’t be saved by the Lord?

            We know of many healthy, wealthy people who own everything. But if we look closely, they often do not have salvation from Lord Jesus. If so, then what is the meaning of life? Maybe such people are happy; they enjoy their wealth which are only temporary, but they would never get a place in the kingdom of Heaven.

            Some churches emphasized the importance of miracles. In newspapers, we often find ads saying: “Come to our retreat tonight, those who are crippled, blind deaf will all be healed.” It is not that I do not believe in Jesus’ power to heal or perform miracles. But if healing was so important and publicized, pastors should simply go to hospitals and heal everybody.

            Mark 1:44 (NIV): “See that you don’t tell this to anyone. But go, show yourself to the priest and offer the sacrifices that Moses commanded for your cleansing, as a testimony to them.” This shows that Jesus does not want people to believe in Him solely because of His miracles.

 

  1. MIRACLE IS NOT THE PRIMARY NEED OF BELIEVERS

 

Too little is our faith if we need miracles in order to believe. Miracles are needed by

those of little faith. Today we are confused in this issue, thinking that receivers of miracles are spectacular, spiritual, holy. But actually, they are people of little faith. When prayers are long not answered, questions are then raised about that person whether the person had sinned that God does not answer the prayer.

            I would like to give an example to prove that spectacular miracles are not what we need. Let’s say one day a member of our church want to have a picnic at Puncak. Two buses full of people leave from church to head there. Before departure, the priest prayed for safety along the trip so that everybody could get to destination safely. But let’s say one of the buses, bus A, had one of its tires popped. Bus A then tripped over and crashed into the highway’s bumper. The windows of that bus are shattered. Some of the passengers are injured, from both concussion and shards.  Some pass out. Praise God, the bus could still be used to drive up to destination. After everybody received first aid, they all decided to continue their trip and finally they arrived at Puncak safely.

            During fellowship at night, the priest then asked who wants to give testimony. Let me ask you then, which bus passengers would be sharing and praise God? Apparently most of the passengers from Bus A praise God. They thank God for protecting their lives despite what happened. On the other hand, Bus B passengers do not say a word, because they did not experience anything spectacular. Look, this is what I mean when I say people are often ‘tricked’. We are tricked into thinking that miracles show God’s providence. Why is that so? If we really wanted miracles, the priest should have prayed for a great accident during the trip, but one that would not kill anybody. Wouldn’t more people then have praised God?

            Once again, if one has been saved by Jesus, then salvation is far more important than spectacular miracles. Salvation is eternal but miracles are temporary. If Jesus had to heal that cripple, that was all due to his faith, and also because He wanted to show His power. That miracle was not performed as a way to spread the gospel. Lord Jesus wants us to know Him not as a shaman or doctor who can heal many diseases, but as Lord who rules over everything, including sickness. He can save us like no one can; this is much more meaningful than healing, wealth, position, intelligence and everything else.

 

Self-Reflection:

 

  1. What is true miracle? Do you believe in that miracle? Have you experienced that miracle? If that miracle did not happen in your life, would you still believe in Jesus?
  2. Many people like spectacular miracles. But they who hope for miracles are actually believers of weak faith. If they want to be transformed by God with true faith, then they would still believe in Him in the absence of His miracles. Do you have such true faith?

REALITA KEBANGKITAN KRISTUS
Oleh: Saumiman Saud*)

Lukas 23:56b-24:12, 1 Kor 15:17

Kematian itu adalah musuh besar manusia. Itu sebabnya dengan berbagai cara manusia berusaha menghindarnya. Jikalau muncul gejala sakit, kita cepat-cepat mencari obat, apabila tidak sembuh maka dokterpun dicari. Ada ornag mengadakan diet yang ketat supaya tubuh stabil. Giat berolah raga supaya tetap sehat. Minum vitamin supaya awet muda dan sebagainya. Semua ini untuk melawan atau paling sedikit mencegah kematian dini.

          Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Sebagai manusia Ia juga bergumul dengan kematian. Kalimat yang Ia ucapkan, “kalau bisa cawan ini berlalu dari pada-KU”, yang artinya jikalau memungkinkan maka  Jalan Salib ini tidak perlu ditempuh. Di tamanGetsemani Ia berdoa dengan peluh bercampur darah. Tiga kali berturut-turut Ia berdoa untuk permohonan yang sama, hingga akhirnya Ia menyerahkan nyawanya ke dalam kehendak Allah.

          Di saat-saat yang menggentarkan itu, muncul salah seorang murid-Nya yang bernama Yudas Iskariot. Ia mengantar para tentara untuk menangkap Yesus di Taman Getsemani dengan janji imbalan yang bakal diperoleh tigapuluh keping uang perak.. Pada malam itu juga Yesus diseret ke pengadilan. Ia diadili dengan cara yang paling tidak adil. Ia dicambuk dengan cambuk yang bermata kail, hingga kulitnya remuk. Ia disiksa dengan paksa, Ia ditendang dan diterjang. Ia diludahi dan dihina. Dan akhirnya, demi kepentingan pribadi Pilatus akhirnya ia memutuskan menyalibkan Yesus dan membebaskan Barabas si penjahat itu.

            Bukit Golgota merupakan saksi sebab di sinilah Yesus disalibkan. Salib yang bagi orang dunia suatu penghinaan dan kekalahan, namun bagi Tuhan Yesus justru suatu kemenangan besar. Mengapa? Karena Yesus bukan hanya mati disalibkan, tetapi Ia juga bangkit dari kubur. Alkitab mencatat, tatkala pagi-pagi buta, para wanita menuju ke kubur Yesus. Mereka bermaksud hendak merempahi mayat Yesus. Namun apa yang terjadi? Batu penutup kubur telah bergeser dan kubur-Nya terbuka. Yesus tidak ada di dalam. Lukas 26:6 mencatat “Ia tidak di sini, Ia telah bangkit”

Apa arti Kebangkitan ini bagi kita? Saya mencatat ada 3 hal, yakni: Kebangkitan Kristus ini real, bukan iluminasi atau angan-angan. Kedahsyatannya melampaui segala-galanya. Ada 3 hal yang akan kita lihat pada bagian ini. Kebangkitan Kristus menunjukkan:

1. Kebenaran Melampaui Dusta

Tuhan Yesus mengajarkan Kebenaran, tetapi justru Ia ditangkap dan dibunuh karena Kebenaran ini. Ia dituduh dengan tuduhan palsu. Dunia yang penuh dusta sering membuat kita juga merasa demikian. Tidak jarang kita mendengar di dunia ini lebih gampang mendirikan Night Club dari pada gereja. Tidak jarang kita menemukan orang yang berbuat baik justru dirugikan. Ketika ada orang yang berlaku jujur justru disakiti. Sehingga ada orang mengatakan, jika saya berbohong justru tidak terjadi apa-apa, namun ketika saya jujur malah dipermasalahkan dan dipersulit. Lalu kita harus bagaimana?

Kebangkitan Tuhan Yesus itu real. Jika kita tidak membuktikannya-pun, kebangkitan-Nya tidak dapat disangkal. Namun, kalaupun harus dibuktikan maka kita dapat menyampaikan dengan beberapa argumentasi:

Kubur kosong boleh dikatakan bukti yang cukup nyata. Namun bagi orang yang tidak percaya tentu akan mengatakan bahwa mungkin Yesus pergi ke kubur yang salah. Atau Yesus hanya pingsan sehingga mayatnya dicuri oleh murid-murid-Nya. Tetapi bukankah para pengawal tidak mungkin menjaga kubur yang salah? Kubur itu ditempel dan disegel materai. Walaupun pengetahuan kedokteran tidak secanggih saat ini, namun orang-orang yang menyalibkan Yesus itu bukan orang yang bodoh, sehingga mereka tidak dapat membedakan orang mati atau pingsan. Justru dusta para penjaga kubur yang harus dipertanyakan? Mengapa mereka sebagai penjaga tidak berusaha melawan “si pencuri” mayat itu? Bukankah murid-murid Yesus itu tanpa senjata? Lagi pula sebagai penjaga semestinya mereka yang bertanggung jawab atas pencurian ini, paling sedikit mereka yang ditangkap? Namun kenapa hal ini tidak dilakukan? Apa yang terjadi di balik itu? Bukankah ini hanya dusta?

Ciuman maut Yudas Iskariot di taman Getsemani dan 30 puluh keping perak uang yang sempat disentuhnya, tidak sanggup melumpuhkan Yesus. Paku di tangan dan kaki Yesus, tombak di perut-Nya, kematian-Nya di atas kayu salib bahkan batu penutup kubur tidak dapat menahan kebangkitan-Nya. Makanya rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 15:17 “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sia kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”. Jika Tuhan Yesus tidak bangkit, maka hari ini kita telah dibohongi secara besar-besaran. Sia-sialah pengorbanan murid-murid Yesus, sia-sialah pengorbanan para misionaris. Dan sia-sialah tulisan ini dibuat.

2. Kebaikan Melampaui Kejahatan

Kejahatan atau dosa ingin membinasakan Tuhan Yesus. Namun Yesus bangkit dan itu menandakan bahwa terbatasnya kejahatan itu. Dunia berusaha meruntuhkan iman kita, namun kebangkitan Yesus justru meningkatkan iman kita. Banyak sekali cara yang dilakukan orang untuk menggoncang iman kita. Ada teolog yang menganggap kebangkitan Tuhan Yesus tidak penting. Ia bahkan mengatakan bahwa kebangkitan hanya mitos. Lalu muncul Dan Brown yang menulis novel Da Vinci Code. Beliau mengatakan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, padahal Alkitab tidak menulis hal itu. Ditambah lagi belakangan ini dengan santernya muncul Injil Yudas. Tidak tahu apa motivasi mereka yang sesungguhnya, tetapi kemungkinan ingin menggoyahkan iman orang percaya.

Namun segala kejahatan yang berlabel “rohani” ini tidak sanggup menggoyahkan atau meruntuhkan iman kita. Karena kebaikan Tuhan Yesus yang telah bangkit ini melampaui segala perbuatan jahat itu. Untuk menyatakan diri sebagai orang percaya yang sejati maka ia harus mempraktekkan perbuatan baik, karena tanpa kebaikan maka sia-sia iman kepercayaan kita.

Di atas kayu salib Yesus memperlihatkan integritas-Nya. Kepada orang-orang yang menyalibkan-Nya, Ia berkata “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Ia mengasihi mereka, Ia mengampuni mereka, bahkan Ia menerima seorang penjahat yang bertobat.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana caranya kita menghadapi orang-orang yang selalu berbuat jahat pada kita? Apakah saat ini kita sedang melakukan pembalasan atau tuntutan pada mereka? Bagaimana cara mempertanggungjawabkan diri kita sebagai orang percaya? Iman itu tidak kelihatan, justru yang terlihat itu adalah perbuatan kita. Bagaimana seseorang dikatakan beriman jikalau kenyataannya tidak disertai perbuatannya? Jikalau kebangkitan Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan. Mengapa kita masih berada dalam posisi yang kalah?

3. Kasih Melampaui Dendam

Dunia benci Yesus, tetapi Allah mengasihi dunia ini. Itu sebabnya di dalam Yohanes 3:16 kita dapat membaca “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kasih Allah adalah kasih Agape, kasih yang walaupun (unconditional love). Jadi walaupun IA disakiti, dihina, didera, bahkan disalibkan, Ia tetap saja mengasihi mereka yang menyalibkan Dia.  Tuhan Yesus tidak menyimpan dendam, IA tidak memperhitungkan kesalahan. Kasih yang dipraktekkan-Nya telah melampaui segala dendam yang ada.

Mari kita diam sejenak. Coba kita evaluasi diri kita. Pernahkah kita mencoba menghitung berapa kali kita mengasihi orang-orang yang menyakiti kita dibandingkan dengan membalasnya kembali? Kadang mungkin kita tidak berani secara langsung membalasnya, karena orang yang menyakiti kita itu adalah atasan kita. Namun dengan menyimpan kesalahan di hati saja sudah termasuk membalas dendam, bukan? Dan terlalu sering kita melakukannya.

Baru-baru ini saya menerima sms dari seorang kawan, yang memberitahu perihal sekumpulan sekelompok anak Tuhan yang di dalamnya juga ada hamba Tuhan sedang menuntut seorang gembala sidang di pengadilan. Apakah ini merupakan hadiah paskah baginya? Jikalau yang dituntut itu karena kriminal tentu tidak masalah, namun jikalau Ia dituntut karena pelayanan; maka kita perlu bertanya-tanya? Ada apa gerangan dengan sekelompok anak Tuhan itu?

Kadang kemerosotan orang percaya bukan karena pihak luar, tetapi karena ulah dan perilaku kita sendiri. Ingat, orang percaya bukan “badut” yang siap ditertawai oleh orang-orang, tetapi ia adalah teladan yang mesti dicontoh, dihargai karena integritasnya, komitmennya, karakternya, kejujurannya dan kebaikan serta kesuciannya. Kadang hanya gara-gara segelintir “oknum” telah merusak seluruh komunitas orang percaya itu secara menyeluruh. Jangan mengotori karya agung kebangkitan Tuhan Yesus, kasih-Nya melampaui dendam. Jadi jika Anda menyimpan dendam maka Anda yang perlu dipertanyakan? Melalui kebangkitan Kristus ini apa yang dapat kita pelajari hari ini? 1. Kebenaran Melampaui Dusta, 2. Kebaikan Melampaui Kejahatan dan Kasih Melampaui Dendam. Itu sebabnya mari bangkit dan sambutlah kemenangan ini. Bersatu kita bangkit menuju pengharapan yang pasti. Ya pengharapan yang pasti.

Mujizat Untuk Meneguhkan Iman

oleh Saumiman Saud

Markus 2 : 1- 12

Sering kali anak-anak Tuhan salah kaprah terhadap masalah mujizat ini. Ada orang berpikir bahwa selama hidupnya apabila tidak ada kejadian yang spektakuler, maka ia tidak dapat bersaksi untuk memuliakan nama Tuhan. Hanya orang-orang tertentu saja yang telah mengalami kejadian-kejadian bin “Ajaib” yang boleh bersaksi bahwa ia mengalami mujizat Tuhan. Pandangan semacam ini tentunya salah, sebab Alkitab justru tidak mengajarkan demikian.

Kehidupan kita sehari-hari saja saat ini merupakan mujizat yang besar, karena pekerjaan Tuhan nyata dalam diri kita setiap pribadi, dan itu luar biasa. Hari ini kita dapat berpikir, melihat , membaca, menulis, makan dan sebagainya, hal ini semua adalah mujizat Tuhan yang sedang bekerja setiap hari.

Melalui bacaan Alkitab hari ini kita akan melihat sebenarnya apa peranan mujizat bagai kehidupan kita orang percaya? Apakah orang percaya harus mengalami mujizat yang terlihat spektakuler? Apakah orang kristen baru dikatakan rohani kalau mujizat di da lam hidupnya luar biasa? Seberapa pentingkah mujizat itu? Mari kita lihat hal ini di da lam kontek Markus 2 : 1-12

1. MUJIZAT BUKAN TUJUAN UTAMA PELAYAN YESUS

Perhatikanlah bahwa setiap kali Tuhan Yesus melayani, ia tidak mendahulukan mujizat tersebut. Sebab baginya mujizat itu tidak begitu penting, yang penting justru pengajaran Tuhan. Ia mau orang-orang yang mengikut Dia mengerti bahwa untuk mengikuti Dia bukan oleh karena mujizat. Tetapi orang-orang yang mengikutnya harus sadar bahwa ia memerlukan Yesus, karean yesus adalah Juruselamat manusia.

Lihat ayat 1 mencatat, bahwa berbondong-bondong orang datang pada Yesus, tujuan utama mereka bukan mencari mujizat. Apa yang mereke lakukan? Markus 2 : 2 mencatat “Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka Merka mendengar dengan setia apa yang diajarkan Tuhan Yesus” Jadi di sini merka mendengar dengan setia apa yang dijarkan oleh Tuhan Yesus. Saya takut kalau kesalah-pahaman ini kita bawa-bawa, maka akhirnya kita juga menganggap mujizat itu sebagai suatu entertainment. Jadi mujizat itu sebagai demonstrasi tentang kedahsyatan Tuhan, tentu bukan itu tujuan utama mujizat itu. Buktinya Yesus di Kapernaum ini Yesus bukan memperagakan mujizat, tetapi mengajar murid-murid-Nya. Kalaupun akhirnya ada orang yang disembuhkan, hal ini merupakan bekal kuasa pelayanan yang dimiliki Yesus.

2. . MUJIZAT BUKAN SARANA UTAMA SUPAYA ORANG PERCAYA

Ketika Tuhan Yesus diperhadapkan oleh orang yang lumpuh itu, maka kalimat yang dikatakan Tuhan Yesus adalah “ Dosamu telah diampuni”. Yesus ingain mengajarkan kepada orang banyak itu bahwa yang paling penting di dalam kehidupan manusia justru pengampunan dosa kita. Apa artinya si lumpuh berjalan, namun ia tidak memperolah keselamatan dari Tuhan.

Hari ini kita banyak bertemu dengan orang-orang sehat, kaya, dan memiliki segalanya, namun satu-satunya yang tidak dimiliki adalah Keselamatan dari Tuhan Yesus. Kalau demikian apa artinya hidupa ini? Mungkin orang tersbut boleh bersuka ciat , berpesta pora dengan harta kekayaannya yang bersifat sementara itu, namun ia tetap saja tidak memiliki bagian did lam kerjaan Surga.

Ada gereja-gereja tertentu saat ini yang sangat menekankan mujizat. DI surat-surat Kbar tidak jarang kita temukan kalimat yang berbunyi “ Hadirilah beramai-ramai di dalam Kebaktian Kebangunan Rohani malam ini, yang lumpuh, yang tuli, yang buta semua akan disembuhkan” Saya bukan tidak percaya Yesus berkuasa menyatakan mujizatnya hari ini. Namun kalau memang sarana kesembuhan ini mau dikedepankan, bukankah lebih baik si pendeta datang saja ke panti Tuna Netra, ke Rumah sakit orang lumpuh, sehingga lebih tepat bagi mereka untuk dilayani.

Perhatiakan Markus 1 : 44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka” Kejadian di dalam bagian ini juga membuktikan bahwa Yesus tidak ingin , karena mujizat baru orang-orang percaya kepadaNya.

3. MUJIZAT BUKAN KEBUTUHAN UTAMA ORANG PERCAYA

Terlalu kerdil iman orang percaya kalau harus ada mujizat yang terlihat baru percaya. Mujizat justru diulakukan bagi oprang-orang yang imannya tidak kuat, sehingga mereka dikuat kembali. Masalahnya hari ini kita sudah seperti dikelabui terhadap masalah ini, seakan-akan mereka yang mengalami mujizat spektakuler baru disebut orang-orang rohani, sedangakn merka yang biasa-biasa saja dikatakan kurang beriman. Apalagi kalau doa-doa yang dipanjatkan belum terkabul, mulailah diselidiki apakah orang tersebut berbuat dosa, sehingga Tuhan tidak menjawab doanya.

Contoh praktis yang hendak saya sampaikan untuk membuktikan bahwa sesunguhnya bukan Mujizat spektakuler yang kita perlukan adalah “ Suatu hari misalnya anggota gereja kita hendak mengadakan acara piknik bersama ke Puncak, lalu berangkatlah dua bus dari halaman gereja penuh dengan penumpang. Sebelum berangkat sang pendeta sudah berdoa, kiranya Tuhan Yesus melindungi perjalanan ini sehingga tiba di tempat tujuan dengan tiada kurang apapun. Namun apa lacur, salah satu bus, katakanlah bus “A”, tiba-tiba bannya meledak dan sempat oleng serta menabrak pagar jalan tol. Kaca-kaca bus banyak yang pecah, ada anggota yang kejeduk kepalanya dan benjol, beberapa luka-luka karena pecahan kaca, ada yang sempat pinsan karena kaget. Namun puji Tuhan, busnya masih bisa dipakai untuk menuju tempat tujuan. Setelah mereka yang luka itu diobati di puskesmas terdekat, maka diputuskan perjalana ini dilanjutkan. Maka tibalah merka di Puncak dengan selamat.

Malam harinya mereka mengadakan persekutuan, kemudian pendeta meminta jemaatnya bersaksi? Permisi tanya kira-kira penumpang bus mana yang yang lebih banyak bersaksi? Ternyata yang bersaksi kebanyakan dari bus yang “A” yakni yang kecelakaan itu. Mereka mengatakan puji Tuhan, Tuhan telah mengerjakan yang luar biasa di dalam hidupnya, walau bus sempat oleng menabrak pagar , namun dia tetap hidup walaupun penuh luka-luka. Lihatlah, inilah yang saya sebut dengan kita telah dikelabui. Mengapa demikian? Sebab kalau memang kita lebih senang dengan kejadian yang spektakuler, mengapa pada saat pendeta berdoa di gereja tidak meminta agar bus yang membawa penumpang ini mengalami kecelakaan dahsyat, supaya kita lebih memuji Tuhan?

Sekali lagi, jikalau manusia telah mengalami pertobatan, dan menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, itu jauh lebih penting dari segala mujizat spektakuler yang ada, sebab semua itu bersifat sementara. Dan kalau Tuhan Yesus sampai harus menyembuhkan orang yang lumpuh itu, semata-mata karena iman, dan juga karena ia hendak menyatakan kuasaNya, bukan sarana utama untuk mengabarkan berita keselamatan itu. Tuhan Yesus ingin kita mengenal Dia bukan sekadar sebagai dukun atau dokter yang menyembuhkan sakit-penyakit, tetapi Tuhan yang berkuasa di atas segalanya, tentunya termasuk sakit-penyakit. Ia sanggup memeberikan keselamatan kepada kita yang tiada bandingnya, hal ini lebih berarti dari kesembuhan, kekayaan, jabatan, kepandaian dan segala-galanya.

======================================

Step Out of Comfort Zone
(Langkah keluar dari Zona Nyaman)

Saumiman Saud *)

Setiap kita memiliki kenyamanan, kenikmatan dan kesenangan yang berbeda. Ada orang yang suka memancing ikan, jadi liburannya berhari-hari dihabiskan hanya di tepi kolam atau pantai hanya untuk memancing ikan. Ia begitu sabar menunggu, ia rela diterpa sinar terik matahari, ia rela menghabiskan waktunya demi kesenangannya ini. Lain pula dengan orang yang hobbynya shopping, ia tidak merasa capek keliling-keliling seluruh plaza, padahal tanpa membeli sesuatu apapun, ia begitu menikmati akan kesenangannya ini. Teman saya hobbynya membaca buku, kalau ia sudah memiliki buku baru, ia tidak akan beranjak dari buku itu berjam-jam bahkan berhari-hari bahkan tatkala ia ke WC buku tersebut juga di bawa. Inilah beberapa contoh kenikmatan yang dimiliki manusia. Belum lagi yang hobbynya sepak bola, tinju, nonton film, dan sebagainya.

Sekarang ketika kita menerima anugerah Tuhan sebagai orang percaya, dan mendapatkan keselamatan itu. Ada tugas penting yang Tuhan inginkan kita perbuat. Kita juga harus keluar dari manusia lama kita, menuju suatu kehidupan yang baru. Tidak gampang, perlu pengorbanan. Pengorbanan ini juga relatif, tergantung pada orang tersebut. Mungkin bagi seseorang pengorbanan itu tidak terlalu besar, karena masalah itu bukan kesukaannya. Misalnya pada jam pertandingan sepak bola, bagi yang sudah terikat akan hobby ini, maka ia akan merasa pengorbanan yang sangat besar, apabila pada waktu yang bersamaan ia harus memilih meninggalkan sepak bola hanya karena hendak melakukan sesuatu buat orang lain. Namun bagi mereka yang tidak hobby sepak bola, tentu hal ini tidak menjadi masalah.

Lalu bagaimana? Saya mencatat ada tiga step yang harus diketahui dan dipahami oleh kita sehubungan out of comfort zone ini:

1. Langkah pertama , harus ada kerelaan

Dalam Alkitab ada beberapa tokoh yang secara suka-rela meninggalkan “zona nyaman”nya (comfort zone), misalkan Musa. Sejak kecil ia sudah hidup di kerajaan raja Firaun, segala kesenangan sudah dimiliki. Boleh dibilang sebagai orang Israel yang telah diadopsi sebagai anak angkat puteri Firaun, ia adalah orang yang paling beruntung. Haknya tentu tidak berbeda dengan seorang putera Mahkota. Namun ia harus tinggalkan semua ini, sebab ada tugas panggilan yang berasal dari Tuhan yakni memimpin bangsanya keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian. (Ibrani 11 : 24, 27). Beda dengan Saul, ketika ia tahu “zona nyamannya” terancam, maka ia berusaha membunuh sipengancamnya? Akibatnya Daud harus lari meninggalnya.

Hari ini mungkin kita tidak dipanggil Tuhan untuk meninggalkan segalanya, kita juga tidak dipanggil untuk satu tugas yang berat yakni meningalkan keluarga kita. Namun apabila kita diminta Tuhan untuk mengorbankan waktu sejenak, untuk melakukan pekerjaanNya, apakah kita rela? Saya ingat John Sung dalam hal ini, ia seoarang yang pintar, dan cerdas. Hasil ujiannya juga gemilang. Ia bahkan mencapai gelar doktor di sebuah Universitas bergengsi di Amerika. Namun ia rela membuang segala ijasahnya, hanya untuk menjadi seorang hamba, yakni hamba Tuhan.

Ada orang bilang hidup itu seperti roda yang sedang berputar, kadang kita berada di posisi atas dan kadang pula di bawah. Ketika seseorang berada pada posisi bawah, ia berharap suatu saat dapat mencapai posisi atas, namun ketika ia mencapai posisi atas ia kadang kala lupa bahwa hidup ini ibarat “roda”, sehingga pada waktunya turun, ia ngotot bertahan. Hal inilah yang sering kali mengakibatkan gereja terjadi pertikaian. Kalau menjadi majelis harus yang seumur hidup, kalau menjadi Gembala Sidang juga harus seumur hidup, jabatan gereja ibarat dinasti, bahkan anak cucu juga telah dipersiapan menggantikan tahtanya. Rekan kerja dianggap saingan dan musuh. Ia tidak rela melepaskan jabatan itu, mati-matian mempertahankannya. Karena jabatan ia juga bisa menjadi keras kepala, tidak mau taat pada pada Tuhan. Henry Ward Beecher mengatakan “ Salah satu perbedaan antara ketekunan dan keras kepala adalah bahwa yang satu berasal dari kemauan yang keras, sedangakan yang lainnya berasal dari ketidak-mauan yang keras.”

Beda sekali dengan sikap Jonatan anak raja Saul itu. Mestinya ia adalah calon pengganti ayahnya yakni sang putera mahkota, namun ia tidak keras kepala mempertahankan jabatan itu, bahkan secara suka-rela ia memberikan jabatan tersebut pada Daud. “Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedau di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu.” ( 1 Samuel 23 : 17)

Terlalu sering saya mendengar orang-orang meninggalkan Tuhan kalau ia sudah gagal, artinya ia kehilangan comfort zonenya. Ketika usahanya bangkrut, ketika ia sudah gagal total, baru dengan penuh rohani mengatakan, kali ini Tuhan memukul saya, jadi saya terpaksa harus ikut Tuhan. Ada lagi yang saya temukan teman muda-mudi, mereka baru berpacaran saja sudah meninggalkan persekutuan, bahkan kadang hari Minggu tidak ke gereja. Alasannya, malam minggu harus “apel” (kunjungi pacar), jadi minggunya terlambat bangun. Berbeda sekali dengan Musa dan john Sung ini bukan!, tatkala segala kesenangan ia miliki, ia rela tinggalkan semua, dan memilih taat pada Tuhan.

2. Langkah ke dua, harus berani berkorban

Demikian juga nabi Nehemia, ia seorang kepercayaan raja Arthasasta. Boleh dikatakan jabatannya sudah cukup mapan. Namun ketika mendengar berita dari kampung halamannya, ia menjadi sedih dan menangis. Itu sebabnya dengan keberanian dan iman ia berkata kepada raja. ” Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” (Nehemia 2 :5) Keputusan yang diambil Nehemia ini cukup berani, sebab saat itu ia berhadapan dengan raja. Sebagai orang kepercayaan namun bersungut-sungut karena Tembok Yerusalem, tentu ia bakal mendapat hukuman dari raja. Namun kita lihat, ia berani mengutarakan perihal ini kepada raja. Artinya apa? Artinya Nehemia siap meninggalkan kesenangan ini.

Memang kalau kita tidak berani mengambil resiko, maka kita tidak akan pernah dapat meninggalkan “wilayah kesenangan” kita. Ada orang memang tidak mau mengalami kesusahan sedikitpun. Percaya kepada Tuhan Yesus, berbakti di gereja, memberi persembahan baginya itu sudah cukup. Kalau diajak untuk terlibat di dalam pelayanan, maka hal ini yang menjadi pergumulannya. Baginya tugas ini rasanya berat sekali, ia merasa seperti mengorbankan segala-galanya.

Tatkala Nabi Hosea diminta Tuhan untuk mengawini perempuan sundal, tentu hal ini bukan suatu tugas yang gampang. Namun Hosea rela mengorbankan harga dirinya, keluar dari kenikmatan hidup sebagi seorang nabi, yang kemungkinan besar karena hal ini ia akan diejek dan dicaci. Hosea berani membayar harga, karena ia tahu Tuhan Allah telah membayar harga kepadanya juga.

Jaman sekarang di gereja kita tidak susah mencari orang yang mau melayani Tuhan, apalagi yang peranannya di depan, misalnya Paduan Suara, Pemimpin Pujian dan sebagainya yang dapat terlihat oleh orang banyak, karena baginya ada nilai plus dan kebanggaan tersendiri. Namun kita sulit mencari orang-orang yang rela berkorban buat Tuhan. Apalagi karena itu mereka yang harus mengeluarkan uang, diejek, dicaci, dimarahi. Tidak banyak yang berani mengambil resiko dan berkorban? Bagaimana dengan anda?

3. Langkah ke tiga, harus beriman

Tatkala Abraham diminta Tuhan Allah keluar dari tanah Ur Kasdim, tentunya hal ini bukan suatu keputusan panggilan yang gampang. Apalagi Abraham sendiri tidak tahu kemana ia harus pergi, sebab Allah hanya memberikan suatu petunjuk pergilah ke suatu negeri. Negeri yang mana? Dahulu belum ada peta yang jelas, itu berarti ia harus keluar dari kesenangan yang telah dibangun bertahun-tahun beserta sanak saudaranya. Kejadian 15 : 7 mencatat firman TUHAN kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Kalau tidak hanya dengan iman, tentu tidak mungkin Abraham dapat melangkah maju. Apalagi ketika ia harus mempersembahkan anak kesayangannya Ishak, anak yang ditunggu kelahirannya selama 25 tahun, tentu ini pergumulan berat. Sekali lagi, jika tidak dengan iman, tentu iman yang dimaksud di sini bukan hanya sekadar percaya kepada Allah, tetapi sekaligus ada penyerahan secara total kepada Tuhan, dan mempercayakan seluruh hidup kita kepadaNya.

Saya kurang tahu bagaimana pergumulan anda tatkala suatu hari harus keluar dari “wilayah” yang anda suka dan senangi selama ini? Banyak orang maunya yang senang dan gampang., asalkan semua sudah dipersiapkan dan terjamin baru melangkah. Di gereja juga sering ditemukan kejadian seperti ini, apabila semua dana telah tersedia, barulah semua program itu dikerjakan, maunya yang instan. Kalau dana belum tersedia, jangan pikir ada tindakan lanjutnya. Hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip kekristen yang mengatakan bahwa “Allah akan Menyediakan”. Lihat Abraham ketika keluar dari kesenangan hidupnya, Allah tetap memeliharanya, lihat Musa, Allah juga menjaga dan memeliharanya, walaupun kadang ada kesukaran dan jalan buntu namun Allah membuka jalan keluar. “ Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. “ (1 Korintus 10 : 13)

Surat Ibrani mencatat banyak tokoh-tokoh yang diminta keluar dari kesenangannya, dan hanya dengan iman saja mereka lakukan itu. (lihat Ibrani 11). Dengan iman maka Petrus keluar dari wilayah kesenangannya, kemudian berjalan di atas air. Namun tatakala imannya goyah, maka iapun tenggelam. Dengan iman Daniel dan kawan-kawan harus mempertahan diri, dan mereka tidak makan makanan hidangan raja.

Saya ingat sekali tatkala kuliah di Seminari, salah satu peristiwa penting di dalam hidup saya yang harus out of comfort zome adalah masalah kehidupan di Asrama. Di sana kami dibentuk dengan tidak mengalami kebebasan seperti biasanya. Setiap hari harus kuliah, bangun dan tidur ditetapkan jamnya, kehidupan dipantau dan diatur, masuk-keluar juga terbatas, seminggu hanya boleh sekali saja. Tidak boleh berpacaran, tidak boleh nonton dan banyak lagi. Nah untuk menghadapi zona yang baru ini, kalau tidak berdasarkan kesukarelaan, rela berkorban dan berjalan dengan iman, tentu tidak dapat melewati hari-hari dengan penuh suka-cita, hidup rasanya seperti tersiksa.

Jangan berpikir setiap kita out dari comfort zone itu berarti memasuki kondisi yang tidak menyenangkan? Tatkala kita memutuskan untuk berpacaran, menikah, pindah pekerjaan, kuliah di Luar Negeri dan sebagainya, kita sudah memutuskan untuk keluar dari wilayah kenyamanan kita. Jadi mestinya kita tidak perlu gentar dan takut, karena di zona yang baru ini pasti kita akan menemukan comfort yang yang tersendiri. Masalahnya adalah, sudah siapkah anda melangkah?

*) Penulis adalah rohaniwan, penulis, lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang, yang saat ini melayani di Gereja Baptis Cornerstone Injili Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s