Pemimpin yang BISA vs BERBISA

PEMIMPIN YANG BISA ATAU YANG BERBISA BERACUN
ANDA PEMIMPIN YANG BAGAIMANA?
Jelas beda sekali, pemimpin yang bisa dan pemimpin yang berbisa. Pemimpin yang bisa senantiasa mengandalkan kualitas hidup, hasilnya ia sanggup, ia tidak merugikan atau mencelakakan orang lain.
Tetapi pemimpin yang berbisa ia seperti racun ular , akan lebih kepada mencari popularitas hidup, belum tentu ia menjadi pemimpin karena sanggup, tersimpan rasa iri bila bawahannya lebih popular.
Jika dalam organisasi sekuler kita sering mendengar “post power sindrom” artinya sang pemimpin tidak bakal melepaskan jabatannya kepada orang lain, walaupun di faktor usia ia sudah tua dan mesti pension.
Pemimpin yang berbisa memiliki beberapa ciri-ciri khas, antara lain :
0tokratif : pemimpin yang maunya memegang tampuk pimpinan itu sendiri, sifatnya condong pada otoriter, organisasi dianggap kerjaannya, mengarah ke diktator, tetapi sakit hati bila disebt demikian.
Narsistif : pemimpin yang maunya dirinya saja yang nomer satu, tampil, ambil keputusan, pendapat orang lain itu sama dengan omong kosong.
Intimidatif : pemimpin yang suka menakut-nakuti orang-orang yang dipimpinya, mengancam dan memberikan tekanan serta beban kepada mereka.
Manipulatif : pemimpin yang suka mempengaruhi prilaku pengikutnya supaya melakukan apa saja yang dikehendaki dan menguntungkannya.
Kompetitif Berlebihan: pempimin yang selalu menganggap para pengikutnya sebagai saingan, “pokoknya” kemampuan mereka tidak boleh melebihnya.
Diskriminatif : pemimpin yang memilih pengikutnya bukan berdasarkan kemampuannya, tetapi berdasarkan perasaan, berdasarkan suku atau daerah kelahiran. Pilih kasih sangat mungkin terjadi dalam diri pemimpin ini.
Pemimpin yang berbisa ini cenderung tidak mempersiapkan regenerasinya. Ia hanya fokus pada keuntungan diri sendiri, Mereka yang dapat menjadi pemimpin yang berbisa adalah para pemimpin yang telah lama dan menganggap organisasi yang dipimpinnya seperti layaknya milik pribadi, kesannya mengambil keputusan sendiri.
Hari ini di dunia tidak butuh pemimpin yang berbisa =racun, karena ia hanya menjadi racun yang mematikan saja. Kita butuh pemimpin yang berkualitas, yakni pemimpin yang bisa – sanggup

Kejujuran dan integritas : Pemimpin yang jujur dan integritas dibutuhkan, karena hanya orang-orang begini yang dapat memimpin dengan tegas dan berwibawa. Alkitab memberi contoh seorang tokoh bernama Samuel. Ayat ini merupakan bukti “Jawab mereka: “Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun.” (1 Sam 12:4) Ia adalah pemimpin yang jujur dan integritas.
“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12b)
Percaya Diri : Pemimpin yang memiliki rasa kepercayaan diri sangat dibutuhkan, sehingga ia tidak ragu-ragu dalam bertindak. Pikirannya juga positif. Contoh Alkitab Yosua dan Kaleb, ketika 10 utusan kembali dengan rasa yang pesimis, Yosua dan Kaleb kembali dengan rasa optimis.
Penginspirasi yang lain : Pemimpin yang hidupnya berdikari, berjuang mulai dari bawah, pengorbanannya sangat berarti . Contoh kehidupan Yusuf dan Musa boleh menjadi insipirasi, mulai dari perjuangan mereka di waktu muda hingga berhasil.
Komitmen dan Gairah Komunikator yang baik : Pemimpin itu perlu kesetiaan dalam tugas, tidak boleh plin-plan. Daniel itu cukup teas mengikut Tuhan, komitmennya luar biasa. Tetap setia pada Tuhan walau penuh dengan ancaman.
Kemampuan Membuat Keputusan : pemimpin yang bisa harus mengambil keputusan yang dapat memberi manfaat bagi orang banyak, bukan hanya untuk diri sendiri. Contoh Zahkheus, ketika ia hendak ikut Yesus keputusannya tidak merugikan orang dan bukan hanya untuk kepentingan sendiri. Beda dengan seorang pemuda yang kaya raya, keputusannya ragu-ragu bahkan tidak mau rugi, hanya mementingkan diri sendiri.
Akuntabilitas : pemimpin mesti memiliki etika yang bertanggung-jawab dihadapan Tuhan. Yusuf yang walaupun digoda terus menerus oleh iateri Potifar ia tetap mempertanggung jawaban dalam hidupnya sebagai orang yang takut akan Tuhan , bukan takut pada manusia.
Delegasi dan Pemberdayaan : Para pemimpin yang efektif memberikan delegasi tugas dan menunjukkan terima kasih atas pekerjaan orang-orang lain. “Musa memeriksa semua pekerjaan itu dan melihat bahwa pekerjaan itu telah dilakukan tepat seperti yang diperintahkan TUHAN. Jadi, Musa memberkati mereka.” (Keluaran 39:43, AYT). Ia menghargai kemampuan orang lain, ia tidak borong sendiri segala tugas yang ada. Delegasi menyangkut regenasi tentunya,sering kali untuk masalah ini kesannya lambat berjalan atau tidak ada sama sekali.
Kreativitas dan Inovasi: Pemimpjn ini memiliki kreativitas dan tidak monoton.
Empati : Pemimpin yang harus memahami benar apa yang dipergumulkan dan menempatkan diri sama seperti bawahannya.
Ketangguhan : Pemimpin yang bisa mesti Tangguh, kuat menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Tatkala orang lain sudah hamper putus ada ia mesti tetap memiliki semangat untuk berjuang.
Kecerdasan emosional : Cerdas saja tidak cukup, namun pemimpin yang baik mesti cerdas emosionalnya, ia mesti stabil emosionalnya. Cara melatihnya mesti ada orang yang berani menasihati pemimpin ini. Selain Yesus, maka dalam Alkitab tidak ada contoh lain selain nama Abigail yang boleh disebut seorang perempuan yang cerdas emosionalnya. Ia berhasil meredahkan amarah Daud yang sedang marah besar dan hendak membunuh suaminya.
Kerendahan hati : Pemimpin yang baik mesti rendah hati, ia tidak boleh sombong. Kesombongan akan membuatnya ditinggal dan dibenci, namun kerendahan hati dapat merangkul dan disayangi.
Transparansi Visi dan Tujuan : Pemimpin tidak menyimpan rahasia, tetapi keputusannya dan programnya terbuka sehingga tujuannya pasti. Bila seorang pemimpin memiliki rahasia tertentu dalam organisasi yang dipimpinnya maka akan timbul saling curiga, iri hati danpersaingan yang tidak sehat. Akibatnya bisa fatal.
Demikian di atas sedikit ulasan pemimpin yang bisa dan berbisa.
Timbul pertanyaan selama ini adalah, mengapa regenerasi pemimpin itu terasa sangat sulit?
Salah satu pengamatan penulis mengenai sulitnya regenerasi pemimpin itu munculnya dari pemimpin yang berbisa.
1. Pemimpin ini terlalu sungkan menyerahkan tongkat estafetnya ke orang lain.
2. Pemimpin ini tidak mempercayakan kepada pengganti sepenuhnya
3. Pemimpin ini hanya memberikan kewajiban tanpa memberikan hak kepada penggantinya
4. Pemimpin ini merasa terancam dari penggantinya
Satu hal yang penulis pelajari bahwa, apabila Tuhan hendak memakai seseorang makai a akan membekali orang tersebut. Penilaian manusia sangat objektif, sering kali bisa salah. Sebagai pengganti juga jangan terburu-buru hendak merebut tampuk kekuasaan. Kadang terpikir mengapa harus Musa mati baru Yosua menggantikan dia? Padahal pengalaman Yusua mestinya tidak perlu diragukan lagi. Jawabannya adalah :
1. Yosua lebih confident
2. Tidak perlu disbanding-bandingkan pada Musa
3. Kalau Musa masih ada ada rasa sungkan mengambil keputusan
Kesimpulannya, jika memang anda hendak menyerahkan tongkat estafet kepada pengganti anda, tidak perlu lagi engkau mencampuri urusannya. Orang Asia itu sungkannya besar, bila mantan pempinpinnya masih hidup selalu dipasang Namanya menjadi penasihat, padahal kita ini kan memiliki penasihat yang Ajaib. Betul tidak!
San Francisco, Feb 2020

About Rev. Saumiman Saud

Lahir 5 Agt, di Medan, alumni SAAT Malang, saat ini sebagai Pendeta di San Francisco
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s