HIDUP YANG DIPAKAI TUHAN

Peter's-renewal

HIDUP YANG DIPAKAI TUHAN

                Sejak dahulu, di mana-mana orang-orang mengetahui bahwa jikalau engkau mengaku adalah pengikut Kristus maka tuntutan kehidupan anda di masyarakat harus memiliki standard yang lebih tinggi.  Itu sebabnya maka kita sering mendengar ocehan orang dengan kalimat seperti ini “ Dia kan tiap minggu ke gereja, kenapa tingkah lakunya seperti itu?” “Diakan anak majelis kenapa omongannya begitu?” “Dia kan anak pendeta, kenapa sikapnya terhadap kita begini?” “Diakan hamba Tuhan , kenapa arogan begitu?” “Diakan……. kenapa pakaiannya begitu?”  Tuntutan ini terjadi karena orang-orang percaya itu diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan kasih Allah seperti yang sering kita dengar yakni kasih Agape.

Kasih Agape adalah kasih yang dibarengi dengan pengorbanan. Jikalau hari ini kita memiliki sepiring makanan maka karena kasih kita masih sanggup memberikan setengah piring pada orang lain, itupun orang yang kita kasihi atau dekat dan kenal; keculi terpaksa karena ditodong  atau dirampok. Lalu tatkala kita hanya memiliki setengah piring makanan mungkin saja kita masih sanggup memberikan seperempatnya kepada orang lain. Tetapi jikalau kita tidak memiliki makanan, maka kita sudah tidak sanggup lagi memberikannya. Inilah bentuk kasih manusia, yang disebut dengan kasih philea itu, sangat terbatas sekali. Sangat beda dengan kasih Allah (Agape), sebab tatkala kita tidak memiliki makananpun kita tetap akan berusaha dengan sekuat tenaga mencari makanan bila perlu berkorban dan menderita demi  mengasihi orang lain itu. Jadi di sini kita melihat bahwa standard hidupnya lebih tinggi. Tuhan Yesus selalu mengajarkan kita standard yang lebih, bila di dalam hukum Taurat membunuh itu harus dengan pedang, maka dalam perjanjian baru membenci saja sudha termasuk membunuh. Bila dalam hukum Taurat berzinah itu berarti melakukan hal yang tidak senonoh maka di dalam pengajaran Yesus melalui pikiran kotor saja sudah disebut berzinah. Jadi standardnya selalu dan harus lebih tinggi.

Tatkala Petrus berkata kepada Yesus, “aku mau mati bersama-sama Engkau”, maka Yesus langsung menegur Petrus dengan kalimat bahwa “engkau akan menyangkal Aku dua kali sebelum ayam berkokok tiga kali.” (bnd Yoh 13 :38-39, Mark 14 : 30)  Benar hal ini yang dilakukan oleh Petrus, sebab porsi dan standard kasihnya kepada Tuhan masih rendah, Petrus masih merasa takut dan ingin mengambil aman maka ia membatalkan komitmennya dengan menyangkal Yesus. Penyesalan Petrus membuatnya menangis dengan tersedu-sedu ( Mark 14:72) Alkitab mencatat bahwa Yesus tidak tinggal diam, sebab Ia tidak ingin membiarkan Petrus murid yang paling mengasihiNya itu memiliki rasa bersalah terus-menerus. Itu sebabnya tatkala Petrus bertekad kembali kepada profesi semula yakni menangkap ikan, maka Yesus datang bertemu padanya. (lih Yoh 21 : 3)

Di tepi pantai itu Yesus mengadakan konfirmasi dan pembaharuan iman kepercayaan Petrus. “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari semua ini”? Lebih dari semua ini maksudnya lebih dari kapal-kapal ini atau lebih dari ikan-ikan ini.  Dua kali berturut-turut Yesus memakai kata kasih “Agapao” untuk bertanya pada Petrus dan dua kali pula secara berturut-turut Petrus menjawabnya dengan memakai kata kasih “Phileo” yang standardnya lebih rendah. Petrus sadar bahwa kasihnya kepada Yesus hanya sekadar kasih manusia (Phileo), masih bisa batal, dan masih ada rasa keegoisannya. Oleh sebab itu pada waktu pertanyaan yang ketiga kalinya Yesus tidak memakai kasih “Agapao” lagi, tetapi Ia menurunkan standardnya kasihNya dengan  memakai kata kasih “Phileo”  Pada saat itulah Petrus merasa sangat sedih sekali. ( Yohanes 21 : 15-19) Petrus diperbaharui, dan Tuhan mau memakai dia untuk pekerjaan-Nya yang lebih besar. Alkitab mencatat bahwa pelayanan Petrus luar biasa, ribuan orang bertobat dan dibaptis. (Kisah 2 : 41-46)

Coba masing-masing kita evaluasi hidup ini. Apakah kasih yang kita praktekkan adalah kasih yang standardnya rendah atau yang tinggi. Kepada manusia sekitar kita dapat berbohong (pencitraan), tetapi terhadap Tuhan kita transparan. Kearoganan hidup  kita harus dikikis, seperti Tuhan mengikis hidup Petrus hingga ia merasa tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Tantangan pelayanan merupakan kikisan yang Tuhan kerjakan dalam hidup ini, supaya kita tidak merasa sombong dan arogan. Semakin lama seseorang melayani Tuhan semestinya semakin dewasa kehidupannya. Kedewasaan itu dibuktikan dengan keberaniannya menerima kekurangan orang lain dan juga mengakui kelebihan orang lain. Ingatlah bahwa tatkala Tuhan hendak memakai kita, IA tidak melihat apa-apa dari hidup kita, seandainya IA melihat itu maka kita tidak bakal dipakaiNya karena kita tidak ada apa-apanya dihadapanNya,  tetapi justru IA mau memakai kita yang tidak memiliki apa-apa itu untuk pekerjaanNya yang luar biasa. Jaga dan peliharalah panggilan itu.

Medio Sabtu, 25 April 2015

Saumiman Saud

About Rev. Saumiman Saud

Lahir 5 Agt, di Medan, alumni SAAT Malang, saat ini sebagai Pendeta di San Francisco
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s