SETIA PADA PANGGILANNYA

PETER SERMON

Tatkala Gubernur Basuki Tjahaya Purnama/ Ahok (DKI Jakarta) mengatakan bahwa kita tidak usah kuatir, ada banyak uang di APBD DKI, mau beli apa saja bisa, mau kerjakan apa saja sanggup, maka saya coba bandingkan dengan pelayanan Tuhan di gereja, kadang untuk proyek pelayanan yang tergolong murah masih saja dirapatkan berkali-kali dan belum tentu kebutuhan dananya dikabulkan. Itu sebabnya kadang terpikir dari kita, seandainya kita memiliki uang yang banyak, maka semua pasti akan beres. Kita bisa melayani tanpa menerima bayaran dari gereja, kita melayani dengan dana sendiri. Tetapi berhenti sejenak, apakah cara demikian yang dikehendaki Tuhan?

Kita perlu sadar dan ingat bahwa Tuhan memanggil kita bukan karena kita itu lebih hebat, lebih pintar atau lebih luar biasa dari orang lain, namun di dalam segala kekurangan dan kelemahan kita maka dengan anugerah dan kasihNya, IA memberi kesempatan kepada kita untuk melayani gerejaNya. Jikalau kita merasa keberatan untuk menerima panggilanNya, Tuhan juga dapat memakai orang lain yang barang kali lebih kurang dari kita untuk mengerjakan hal yang lebih besar dari apa yang kita kerjakan selama ini, yang sekaligus merupakan satu templak bagi kita.

Awalnya sewaktu Simon Petrus dipanggil Tuhan Yesus menjadi pengikut atau muridNya waktu itu ia berprofesi sebagai nelayan yang sedang “apes” sebab mereka sepanjang hari tidak mendapat ikan. Namun Tuhan yang anak Tukang kayu justru yang mengajar mereka bagaimana menangkap ikan (Yoh 1:41). Kemudian dilanjut dengan pangilan ke dua (Mat 4:19) dan ke tiga sehingga Petrus sekarang resmi menjadi murid Yesus (Luk 6:13-14). Suka-duka pelayanan bersama Yesus telah dialami oleh murid- murid Yesus, hingga saat itu Yesus telah di salib dan bangkit dari kubur. Setelah itu Petrus merasa dia tidak boleh tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu, namun apa lacur dia tidak memiliki talenta yang lain kecuali menangkap ikan. Itu sebabnya dia bertekad untuk kembali menjadi nelayan (Yoh 21: 6) “ Aku pergi menangkap ikan” Tetapi kita lihat di sini, sepanjang malam ia sudah menebar jala tetap saja tidak mendapat apa-apa. Lalu kembali mereka bertemu Yesus yang telah bangkit dan kali ini kembali Yesus mengajari dia menangkap ikan dan mereka peroleh ikan yang banyak ada sekitar 153 ekor.

Yesus tidak mau Petrus kembali kepada profesi semula, Ia mau Petrus setia pada panggilanNya, itu sebabnya Ia mengadakan konfirmasi kepada Petrus untuk membuktikan bahwa Petrus benar-benar mengasihi Dia walaupun beberapa hari yang lalu Petrus pernah menyangkal Yesus sebanyak 3 kali. Yesus tidak ingin Petrus kembali pada profesi semula, walaupun ia tetap saja mengalami suka dan duka. Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus ” Apakah engkau mengasihi aku?” yang menunjukkan bahwa Petrus telah menyangkalNya tiga kali. Yesus memakai kata kasih “Agape” untuk pertanyaannya kepada Petrus pada awal dua pertanyaan, namun Petrus menjawabNya dengan kasih “Philia”, karena Petrus tahu standard kasihnya adalah kasih manusia yang sering kali ada bohongnya. OLeh sebab itu pada pertanyaannya yang ke tiga, Yesus menurunkan standard kasihnya kepada Petrus, ia bertanya dengan mamakai kata kasih “Philea” kepada Petrus, dan Petrus menjawab dengan kasih “Philea” juga.Tugas Petrus adalah mengembalakan Domba-dombaNya. Menjadi Penjala Manusia bukan Penjala Ikan. Kita tahu bahwa akhirnya Petrus dipakai Tuhan dengan luar biasa, kotbahnya telah menobatkan dan membaptiskan beribu-ribu orang.

Saya teringat apa yang dikatakan oleh dosen SAAT, Malang Pdt. Benny Solihin, sebagai seorang pendeta “Saya tidak kaya, tetapi saya juga bukan orang miskin”. Di dunia yang modern ini ada banyak tantangan yang kita hadapi, godaan dan pengaruh yang dapat menarik kita begitu jauh dari yang sudah dipanggil menjadi Penjala Manusia kembali menjadi kepada Penjala Ikan. Tetapi ingatlah, jikalau kita pernah dipanggil menjadi Penjala Manusia, biarlah kita setia dalam hal ini. Tuhan tidak butuh kita harus menjadi orang kaya raya terlebih dahulu baru melayani Dia, Tuhan bisa memakai persembahan seorang janda yang miskin, untuk mempermalukan seorang pemuda yang kaya. Memberi hidup dengan suka-rela melayani Dia baik suka maupun duka, kaya atau miskin adalah suatu panggilan yang mulia. Pdt Bob Jokiman mengatakan “Orang yang suka memberi, tidak akan dibiarkan Tuhan peminta-minta”, Tuhan tidak pernah meninggalkan anak Tuhan yang dengan rela telah memberikan hidupnya untyuk Tuhan.

Kita jangan pernah berpikir bahwa jikalau suatu hari kita menjadi kaya raya maka kita sanggup melayani Dia, sebab belum tentu Tuhan mau memakai kekayaan kita. Kita sadar bahwa untuk projek pelayanan, misi, program dan pengadaan ini dan itu di gereja kita memerlukan uang, tetapi uang bukan segala-galanya untuk pekerjaan Tuhan, sebab Tuhan sanggup memakai hal yang tidak mungkin bagi pikiran kita menjadi mungkin. Jikalau kita percaya bahwa Tuhan yang kita layani itu maha Kuasa, maha Kasih, maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Tahu, maka TanganNya pasti tidak pernah kurang panjang dan waktuNya tidak pernah meleset untuk memelihara kita. Kunci utamanya adalah asal kita tetap setia dan taat. Tuhan akan memakai kita yang biasa-biasa saja ini untuk mengerjakan pekerjaanNya yang luar biasa.

Shalom,
Saumiman Saud,  San Francisco
Medio Minggu 19 April 2015

About Rev. Saumiman Saud

Lahir 5 Agt, di Medan, alumni SAAT Malang, saat ini sebagai Pendeta di San Francisco
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s