BUDAK ATAU HAMBA

Lukas 17:7-9

Budak atau Hamba sebenarnya apa bedanya? Sama-sama orang rendahan? Sama-sama orang yang sudah dibeli? Sama-sama orang yang harus bekerja tanpa batas? Saya pikir dalam konteks kita, hanyalah dalam makna halus dan kasarnya saja. Jikalau kita sebutkan orang tersebut sebagai budak rasanya lebih kasar maka ada baiknya orang tersebut disebut hamba. Lalu sekarang apa makna dan relevansinya bagi kita semua itu?

Konteks pembicaraan Tuhan Yesus jelas ditujukan kepada orang-orang yang memang mengerti apa itu “hamba” (secara kasar disebut sebagai budak). Saya pikir “budak” macam ini sudah jarang dijumpai lagi saat ini. Perbandingan yang paling dekat adalah “Hamba atau pelayan atau pembantu yang mendapat upah baik itu upah harian maupun upah bulanan. Atau orang yang mempunyai kontrak kerja dan menjadi milik sebuah Serikat kerja.

Kata hamba berasal dari kata servant/slave atau doulos (Yunani) atau ebed (Ibrani) berarti seorang yang sedang dalam status sebagai pelayan atau budak. Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tidak ada bantah-bantahan. Suatu sikap penyerahan segala “hak pribadi” secara utuh untuk diatur oleh majikannya. Berarti ia sedang menyangkal dirinya atau tidak berhak lagi atas hak pribadinya. Hak itu sudah melebur/menyatu dengan hak tuannya. Akan tetapi haknya itu sekali lagi tak kelihatan kekuatannya. Dengan keadaan itu maka ia berada dalam status budak atau hamba. Pada saat itu tentunyai tidak ada yang berani mepersoalkan HAM (Hak Azasi Manusia) seperti sekarang.

Penjelasan ini masih sangat bersifat umum, oleh sebab itu masih dapat diuraikan secara khusus lagi, misalnya arti hamba memiliki dua pengertian besar.

Pertama, kata slave menandakan seseorang yang bekerja keras, membanting tulang, buruh kasar, seorang yang bodoh. Orang semacam ini bisa digambarkan sebagai rodi-rodi pada zaman penjajahan Belanda atau Jepang di Indonesia. Mereka disiksa, dipukul dan dipaksa untuk bekerja; sedangkan gajinya belum tentu dibayar.

Kedua, kata servant dikhususkan kepada bujang, pelayan yang bekerja dalam status yang lebih baik. Ia menjadi seperti seorang sekretaris pribadi dan ia memiliki pengetahuan yang hampir setara dengan tuannya. Segi intelektual dipentingkan. Ia sendiri kadang-kadang masih membawahi orang lain yang berada di bawah penguasaannya. Kasus ini dapat dijumpai dalam peranan Eliazar atau Elisa. Atau orang-orang cerdik pandai yang mengabdi pada raja yang biasanya dikenal sebagai para ahli nujum, peramal, ilmuan. Pengertian lain dari kata “servant” adalah seseorang yang mengabdi pada masyarakat umum (public servant). Ia disebut juga sebagai abdi negara atau abdi rakyat atau pegawai pemerintah.

Hamba pada abad pertama adalah budak tulen (orisinil) atau budak asli 100%. 

Budak secara gamblang sebenarnya dapat kita definisikan sebagai:
1. Seseorang yang telah kehilangan segalanya didunia ini
2. Kemerdekaannya telah dirampas
3. Kebebasannya telah musnah
4. Kehendaknya telah hampa
5. Bahkan namanya sudah tidak ada lagi (Budak diperjual-belikan di pasar bebas, seperti seekor binatang. Tarifnya digantungkan di lehernya, orang-orang mulai menawar harganya. Akhirnya jika tawarannya cocok maka seseorang akan membelinya dan membawanya pulang dan melubangi telinganya, lalu dipasang sebuah anting-anting yang bertuliskan nama tuannya. Dan saat ini pribadi budak itu benar-benar hilang sebab namanya bukan lagi “Bokir” tetapi “budak Tuan Charles”

Budak sesungguhnya tidak mendapat upah apapun dari hasil keringatnya, bahkan, jika tuannya mengatakan “Kamu harus bangun jam 04.00 pagi, maka ia harus melakukannya. Jika tuannya “menginginkan” ia harus kerja tengah malam, maka mau tidak mau ia harus kerja. Tanpa ada protes, tanpa ngomel-ngomel dan menggerutu. Apa lagi Unjuk Rasa atau demo, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan buruh dan mahasiswa yang ada di Surabaya belakangan ini.

Tatkala Tuhan Yesus menceritakan tentang seorang Tuan yang mengundang budaknya supaya makan lebih dahulu, murid-murid-Nya mungkin akan tertawa atau senyum tersipu-sipu. Mengapa? Karena tidak pernah ada tuan yang berbuat demikian, yang lazim budak harus melayani tuan dan terus melayani tuan. Pokoknya yang dilakukan budak hanya untuk membantu dan menyenangkan sang tuan, bukan sebaliknya. Seorang budak harus mandi, ganti pakaian, makan, bahkan tidur setelah sang tuan melakukannya.

Lalu Tuhan Yesus berkata lagi, “Adakah ia berterimakasih kepada hamba itu karena hamba itu telah melakukan apa yang telah ditugaskan kepadanya? Orang banyak itu akan berkata tentu tidak! Tidak perlu begitu, seorang tuan tidak bertanggung jawab untuk mengucapkan terima kasih kepada budaknya.

Kemudian Yesus memberikan kesimpulan “Demikian jugalah kamu, apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata:

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (lihat Lukas 17:10). 

Kita mungkin tidak begitu senang dengan ayat ini, tetapi memang demikian adanya ;- Kita adalah budak-budak Kristus, kita sudah dibeli oleh Tuhan dan harganya sudah lunas dibayar. Rasul Paulus begitu memahami sepenuhnya keadaan ini, dia mengatakan:

“Sebab tidak ada seorangpun diantara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun diantara kita yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, maka kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati maka kita juga mati untuk Tuhan, jadi baik hidup maupun mati kita ini milik Tuhan.

Sekali lagi kita sudah dibeli Yesus Kristus dengan harga kontan, tunai ,tanpa pakai kredit-kreditan. Itulah sebabnya dalam Perjanjian Baru sering disebutkan bahwa Paulus adalah seorang hamba Kristus Yesus sedangkan Yakub seorang hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kemudian Simon Petrus disebut seorang hamba dan rasul Yesus Kristus, bahkan dalam Lukas 1:38, Maria menyebut dirinya sebagai “Hamba Tuhan”.

Saya sering mengambil ilustrasi ini sebagai contoh :

Ada yang mengatakan kita adalah “Mutiara” yang mahal dan Kristus meninggalkan segalanya untuk membeli “Mutiara” itu. Tetapi sekarang kita tahu bahwa “Dia” adalah mutiara yang mahal itu, kita adalah pedagang yang sedang mencari kebahagiaan dan ketenteraman. Dan ketika kita mendapatkan Yesus, kita pasti mendapatkan segalanya.

Dialah yang empunya kebahagiaan, Dialah yang empunya sukacita, Dialah yang empunya Damai Sejahtera, Dialah yang empunya Kesembuhan, Dialah yang empunya Ketenteraman, Dialah yang empunya Kekekalan, Dialah yang empunya se-ga-la-nya!!!

Dengan demikian kita berkata:

“Saya ingin memiliki mutiara itu, berapa harganya? Harganya sangat mahal! Jawab penjual mutiara itu.Ya, tetapi berapa harganya? Tentu jumlah harganya sangat mahal?Apakah saya sanggup membelinya? Tentu sanggup! Setiap orang pasti sanggup membelinya.Tetapi mengapa anda katakan harganya sangat mahal? Kalau begitu berapa harganya? Seharga segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

Mungkin kemudian anda mulai memperhitungkan segala harta benda anda, Dua puluh juta uang tabungan di Bank, kurang lebih dua juta uang kontan ada di kantong baju. Apa lagi! Habis? Dimana saudara tinggal? Jl. Darmahusada, Surabaya.

Rumah itu juga menjadi milik saya
Maksud anda biar saya tidur di tenda?
Oh, rupanya masih punya tenda, tenda itu menjadi milik saya.
Jadi, lemari dan pakaianku harus diletakkan di mana?
Lemari dan pakaian anda juga jadi milik saya.
Isteri dan anakku bagaimana?
Isteri dan anak juga menjadi milik saya
Sekarang tinggal saya sendiri!
Anda sendiri juga menjadi milik saya

Sekarang dengarlah, saya akan mengizinkan anda mempergunakan semua ini, saya tidak segera mengambilnya. Tetapi jangan lupa, saudara adalah milik saya….kapan saja saya memerlukannya anda harus segera datang. 

Begitulah keadaannya bila kita menjadi milik Kristus! Kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi, karena semuanya telah diserahkan sepenuhnya kepada Kristus. Begitu juga dengan kita yang mau melayani Tuhan. Sebenarnya di dalam hal memilih melayani dibidang pelayanan tertentupun itu bukan hak kita. Sebagai hamba Tuhan, memilih ladang pelayananpun bukan merupakan haknya, karena status kita budak atau hamab yang memang tidak berhak memilih atau menentukan. Tetapi betapa seringnya kita luypoa akan hal itu, kita masih pikir kita adalah seperti tuan yang harus dilayani, inilah ketidaksadaran kita. 

Hari ini bagaimana status kita? Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus; belenggu perbudakan kita sudah dilepas. Namun sering kali kita sendiri cari penyakit sendiri. Kita diperbudak oleh diri kita, perbuatan kita, hidup kita, tutur kata kita. Kita juga diperbudak oleh pekerjaan kita, kita diperbudak oleh nafsu kita untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, tanpa mau perduli siang atau malam ataupun halal atau tidak, korupsi, penipuan , judi tetap saja menguasai hidup kita. . Ingat saudara, kita bukan lagi budak uang, kita bukan lagi budak dosa, kita adalah budak Kristus, marilah kita kerjakan segala pekerjaan untuk Kristus. 

 

SF 

About Rev. Saumiman Saud

Lahir 5 Agt, di Medan, alumni SAAT Malang, saat ini sebagai Pendeta di San Francisco
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s